Sabtu, 10 Oktober 2009

Rekomendasi: Ketika Cinta Bertasbih 2


Bukan suatu kesengajaan kalau akhirnya saya nonton KCB 2. Pagi tadi saya pergi ke (mantan) kosan, demi melunasi tagihan oleh2 untuk para (mantan) tetangga. Puas berbasa-basi, saya lanjutkan perjalanan ke klinik tempat kerja saya, dengan tujuan yang sama (nyetor oleh2), sekaligus meminta surat sehat untuk kelengkapan pendaftaran uji kompetensi. Ba’da dzuhur saya pulang dari klinik. Sesampainya di depan Arion, ternyata hujan. Jadilah saya putuskan untuk berteduh sebentar, sambil mencoba thowaf di Arion. Karena belum pernah menjelajah Arion, saya niatkan untuk melihat2 ke lantai atas, sampai ke tempat bioskop. Eh, ternyata jam tayang KCB 2 di salah satu studio tinggal setengah jam lagi. Haha. Yasudah, saya beli saja tiketnya.


Sambil menunggu pintu dibuka, saya sms beberapa teman sambil baca buku yang sebelumnya sempat saya beli di Gunung Agung. Dalam kondisi pikiran yang masih terinterferensi gempa Padang, dalam hati saya berpikir,”Kalo tiba2 gempa bisa gawat nih urusannya. Bisa tewas di bioskop. Su’ul khotimah dong. Haduh, gimana ya.”

Untungnya pintu studionya keburu dibuka. Haha! untungnya? Kok untung? :p


Saya tidak menonton KCB 1. Karena kata orang filmnya cacat, gara2 ada tulisan to be continued di bagian akhir. Tapi berhubung saya sudah tahu ceritanya, bukan masalah kalau saya langsung nonton jilid dua nya.


Film ini bagus, asli bagus. Islami, betul2 islami. Taushiyahnya meluber, baik yang tersirat atau tersurat. Adegan2 yang “ehm2” ternyata bisa disiasati dan tidak ditampilkan, tanpa mengurangi nilai estetisnya. Dialog2 saru model akad nikah, tidak disuarakan. Kontak fisik antar non mahram dalam arti yang sebenarnya (bukan mahram ketika di film), sangat diminimalisir. Tapi tetap saja, seperti salah satu dialog dalam film yang disarikan dari Al Hikam, syaithon itu menggoda dengan saaangat lembut.


Buat saya, menonton film ini sangat dilematis. Penuh pemandangan surga, tapi sekaligus beraroma neraka. Hadoohhh, jujur saja, sepanjang film ini saya terserang vertigo akut (eh, emang ada?). Kepala saya pening karena bingung mata ini mau diarahkan kemana, atau telinga ini kalo mau dibikin semi permeable gimana cara. Akhirnya, saya cuma bisa beristighfar, tapi pandangan masih ke layar, haha.


Sebagai seorang lajang konvensional, meskipun dibungkus dalam kemasan film islami, tetap saja panorama perempuan berparas ala bidadari surga tidak bisa di tak acuhkan begitu saja oleh mata saya. Dan gawatnya, pemandangan seperti itu bertaburan di sepanjang film. Mulai dari si kecil Sarah, sampai dr.Asmirandah. Telinga pun begitu. Ya.. gitu deh. Saya takut mendeskripsikannya. Memang seharusnya dibuat semi permeabel, tersaring timbre suara siapa yang harus ditolak, suara siapa yang boleh masuk sampai di otak, dan suara siapa yang boleh masuk sampai di hati.


Syaithon itu betul2 halus. Ketika seseorang tidak mempan digoda dengan dosa besar, dia akan melanjutkan dengan godaan dosa kecil. Ketika dosa kecil berhasil dihindari, berlebihan dalam hal yang mubah akan dibisikkannya. Jika masih belum mempan, dia akan berkata,”Lakuin ibadah yang enteng2 aja coy. Kalo gak, yang wajib aja dah, sunnahnya kaga usah.” Dan sebagai senjata pamungkas ketika semua strategi gagal, bid’ah dan berlebihan dalam agama akan menjadi andalannya.


Yah, diluar betapa halus&rapatnya jejaring syaithon yang saya rasakan selama nonton, film ini tetap patut mendapat apresiasi. Usaha Kang Chaerul Umam, Kang Abik, dan seluruh timnya, tetap saya hadiahi seluruh jempol, dan doa semoga bisa terus berkarya.

Meskipun vertigo, saya tetap sangat menikmati menonton film ini. Selain emosi yang teraduk-aduk –yang butuh usaha ekstra untuk tidak terlalu sering cengengesan dan berkaca-kaca-, kemiripan beberapa lakon dengan keseharian saya juga menambah daya tarik film ini buat saya pribadi. Dedy Mizwar yang berlagak medok mengingatkan saya akan Fuad, si Ustadz betawi yang suka bertutur jawa. Bu’e, tentu mengingatkan saya akan Bunda saya di rumah. Dan Lia, juga membawa memori saya terbang ke Malang, ke adik saya.


Sampai saat ini, film ini adalah adaptasi novel terbaik yang pernah saya tonton. Mungkin karena saya memang jarang nonton, haha. Atau karena ternyata saya masih orang Indonesia normal, yang sangat terobsesi dengan cerita yang happy end, khusnul khotimah. Karena seperti itu pula harapan saya untuk akhir saya nanti.

Wallahua’lam.

Selasa, 06 Oktober 2009

Pejabat Alas Kaki


Sepatu itu munafik. Di satu sisi, dia mengaku bahwa dirinya telah resmi dilantik dan memangku jabatan sebagai alas kaki. Untuk bisa menduduki jabatan tersebut, sepatu telah berkampanye dimana-mana bahwa dia bisa menjamin kesejahteraan kaki tuannya dari kejamnya jalanan. Mulai dari puntung-puntung rokok yang lupa dimatikan, ribuan kerikil-kerikil tajam, sisa-sisa permen karet yang bertebaran di tempat2 tak terduga, hingga panasnya aspal jalanan, telah dijanjikannya bisa ditangkal. Tapi, pada saat yang bersamaan, secara simultan, sepatu memberikan ancaman yang tidak kalah menakutkan buat kita: lecet. Lecet dan luka yang muncul pada kaki akibat bergesekan dengan sepatu tentu tidak kalah menyebalkan dengan nyeri karena tersundut rokok, menginjak kerikil, atau lepuh karena terbakar panasnya aspal.

Jika kita keukeuh untuk tidak melengserkan si sepatu dari jabatannya, kita akan dipaksa untuk merogoh kantong lebih dalam untuk membeli penangkalnya: kaos kaki. Dengan kaos kaki, teror lecet yang biasa ditebar oleh si sepatu tidak akan terlalu menakutkan. Tumit jadi lebih terlindung, jempol jadi lebih aman. Memakai sepatu pun terasa lebih nyaman. Sayangnya, masa jabatan kaos kaki biasanya lebih singkat. Ia sering diberhentikan dengan paksa oleh sepatu, yang mungkin kedudukannya memang lebih tinggi.

Pada periode yang berbeda, jabatan alas kaki terkadang dipegang oleh munafik yang lain, yang tidak kalah ganas: Sandal Jepit. Kebencian saya terhadap munafik yang satu ini sebelas-dua belas dengan sepatu –sang incumbent-. Setiap kali sandal jepit menjabat, kulit di sela jempol dan telunjuk kaki saya selalu jadi korban. Lecet. Sialnya, untuk menghadapi munafik yang ini, butuh kaos kaki lain yang juga tak kalah brengseknya, yaitu jenis yang meng-cover jari2, atau minimal memisahkan jempol dan empat jari lain. Saya bilang brengsek, karena meskipun bisa melindungi kaki dari bahaya laten sandal jepit, untuk mendapatkannya butuh perjuangan ekstra, karena lebih sulit dicari dan lebih mahal. Belum lagi, jika saya bersandal jepit ria senyampang menggunakan kaos kaki jenis ini, tidak terhitung banyaknya orang yang meledek karena gaya saya yang jadi serupa wanita.

Pejabat alas kaki favorit saya adalah –sebagaimana kebanyakan mahasiswa kedokteran- sandal model Crocs. Tentu saja yang tanpa logo dan tulisan crocs, yang dapat dibeli dengan harga miring, dan satu ukuran lebih besar daripada ukuran alas kaki saya yang biasanya. Tanpa banyak berjanji seperti sepatu, atau pura2 menawarkan solusi seperti sandal jepit, beliau mampu melakukan tugas jabatannya dengan nyaris sempurna. Punggung kaki cukup terlindung dari berbagai ancaman, tumit bisa bergerak leluasa tanpa khawatir lecet, ventilasi kaki cukup terjamin, dan telapak kaki pun bisa menapak dengan nyaman karena ketebalannya yang pas. Lagipula tidak dibutuhkan kaos kaki sebagai tambahan, karena beliau sangat jauh dari kemunafikan ala sepatu dan sandal jepit.

Saya tidak tahu mengapa tiba2 saya menulis tentang sepatu, sandal jepit, dan crocs bajakan. Setelah melihat banyaknya alas kaki yang bertebaran tidak beraturan di pelataran masjid pasca solat jumat, dan masih dalam nuansa gempa Sumatra, tiba2 energi dan pikiran negatif saya memerintahkan para jari untuk menulis.

Saya teringat suatu kali salah seorang Profesor saya pernah bercerita, bahwa di setiap kali terjadi bencana alam, selalu ada pihak yang bertingkah ala sepatu, bahkan sandal jepit. Pernah suatu perusahaan susu milik asing memberikan berton-ton sumbangan susu formula untuk korban gempa, yang ternyata kadaluarsa. Perusahaan raksasa asing lain, yang bergerak dalam industri farmasi, menyumbang ribuan kardus obat-obatan, yang setelah diteliti ternyata sudah kadung expired. Media terlanjur mengekspos bahwa perusahan X, Y, dan Z telah menunjukkan kepedulian mereka. Eh, ternyata kepedulian tersebut tidak lebih dari sekedar menciptakan incinerator gratis, atau minimal memiliki biaya operasional lebih murah. Ongkos pengolahan limbah kimia yang memang tidak murah, ternyata bisa disiasati menjadi gratis di negara ini. Tunggu saja ada bencana, lalu sumbangkan.

Suer, saya tidak bermaksud menuding atau menghujat siapapun. Tujuan saya murni cuma pingin berbagi, kok. Justru jangan sampai karena tulisan2 miring seperti ulah saya ini, niat kita untuk membantu jadi surut karena takut dicap sebagai sepatu, eh.., munafik maksud saya. Khawatir dibilang cari muka lah, aji mumpung lah, dan cap-cap negatif yang lain. Semua ada maqomnya masing2, dan wajib untuk membantu sesuai kemampuan dan kondisi masing2.
Kebetulan, saat ini saya belum bisa berbuat banyak, seperti sahabat2 saya yang lain. Tapi percayalah, getaran gempa yang dirasakan saudara2 kita di Padang, sangat terasa bahkan sampai ke Malang, Jawa Timur. Getaran itu sangat terasa di sini, di hati saya.
Wallahua’lam.

Malang, ba'da Jumatan.

The Doctor: Bukan Tentang Valentino Rossi


Jika Anda menyukai buku-buku karangan Atul Gawande seperti Better dan Komplikasi, saya yakin buku yang satu ini haram untuk Anda lewatkan. Dengan cara penulisan dan isi yang sama menariknya dengan karangan Atul, buku berjudul "The Doctor: Catatan Hati Seorang Dokter" ini sangat layak untuk dijadikan bacaan wajib bagi para dokter dan siapapun yang tertarik dengan dunia kedokteran. Seakan melengkapi sudut pandang Atul yang merupakan seorang dokter bedah, penulisnya, dr.Triharnoto, menulis buku ini dari kacamata beliau sebagai seorang dokter ahli penyakit dalam.


Ada pepatah yang mengatakan bahwa Buku adalah Jendela Dunia. Melalui buku, kita dapat mengintip sebagian rupa dari realita dunia, mendapatkan gambaran besarnya, dan -mungkin- mengestimasi sisi sisanya yang tidak dapat kita lihat dari satu jendela. Nah, dalam rangka menjalankan perannya sebagai jendela dunia, buku The Doctor ini bagaikan jendela raksasa berukuran giga, sehingga memudahkan kita melihat dengan jelas dan jernih setiap hal yang terjadi di luar sana. Semua orang bisa melihat melalui jendela ini. Entah dia adalah seorang dokter yang seringkali justru jadi objek pengamatan orang di balik jendela, atau orang awam yang memang hanya sesekali menyempatkan diri untuk melihat pemandangan dunia di luar sana, dunia medis dan kedokteran.


Hampir semua angle dari pemandangan dunia kedokteran terekam dengan baik di buku ini. Tinggal pilih saja, mau dilihat semuanya, atau hanya satu sisi yang menarik minat masing-masing Anda. Jika Anda adalah siswa SMU, atau mahasiswa kedokteran tingkat awal, mungkin setengah bagian akhir di buku ini adalah yang paling menarik buat Anda. Karena pada bagian tersebut penulis lebih banyak bercerita tentang kasus-kasus yang pernah beliau temui, yang menggambarkan betapa serunya kehidupan seorang dokter. Tentu ditambah dengan kontemplasi ringan tapi mendalam di setiap babnya. Jika Anda adalah seorang dokter yang cukup senior, atau masyarakat awam, mungkin setengah bagian awal lah yang menarik minat Anda. Dengan content yang lebih ke arah filosofis, wacana makro, dan tidak banyak mengumbar istilah medis, bagian ini akan sangat mengasyikkan untuk Anda nikmati.


Sebenarnya, buku ini bukanlah buku pertama di Indonesia yang membahas dunia kedokteran. Sebelum buku ini terbit, saya pernah membaca buku2 semacam Mengobati dengan Hati, Dokter juga Manusia, Bagaimana Dokter Berpikir dan Bekerja, Ketika Nurani Dokter Bicara, Catatan Harian Calon Dokter, dan sebagainya. Tapi, jujur saja, buku ini yang terbaik sampai saat ini -menurut saya-. Cara dr.Triharnoto bertutur dalam buku ini sangat menyenangkan dan tulisan beliau mengalir dengan sangat mulus. Perbandingan wacana mikro-makro dan aplikatif-filosofis yang pas, membuat buku ini memiliki nilai tambah dibanding buku-buku serupa yang pernah saya baca. Garapan temanya yang luas -seperti yang sudah saya katakan sebelumnya- juga membuat buku ini unggul diantara buku2 lain. Di dalamnya, Anda akan menemukan hal2 menarik mulai tentang betapa runyamnya industri kesehatan kita, betapa sulitnya seorang dokter membuat puas seluruh pasien, hingga peningnya kepala para dokter yang terpaksa hidup dengan disekat kapitalisme yang semakin mendunia.


Di luar itu semua, kesempurnaan tentu saja tidak menjadi hak dari buku ini, tidak pula buku2 yang lain. Buat saya pribadi, kelemahan buku ini lebih ke hal2 teknis, kemasan, bukan ke isi. Yah, selera pribadi memang, tapi cover yang seharusnya bisa lebih ciamik, subjudul yang agak klise, font yang kurang cantik, dan layout yang terlalu polos, saya yakin menjadi faktor pertimbangan tersendiri bagi para calon pembeli. Saya pikir, penerbit bisa memoles lagi hal2 ini di edisi revisinya, lengkap dengan tambahan tulisan best seller di sudut kanan atas.

Saya hadiahkan jempol saya untuk dr.Toto, kanan dan kiri^^

Dilema Poligami

Tadinya
Saya berhasrat untuk segera
Karna katanya
Itu sunnah rasul saya
Kebiasaan para sahabat dan pengikutnya


Tiba-tiba semua asa hilang entah kemana
Tanpa dinyana
Baiklah, saya batalkan saja itu rencana
Tapi tak apa
Sungguh tidak apa-apa


Toh, sebenarnya saya sudah menjalankannya
meskipun bukan dengan manusia
Belum dengan makhluknya yang paling sempurna
Sudah ada tiga yang meminang saya
Yang pertama bernama agama
Yang kedua biasa dipanggil negara
Dan ketiga adalah buku-buku saya
Kalaupun ada dia
Dia hanya bakal jadi nomor empat kedudukannya
"Jadi sepertinya tidak perlu segera," pikir saya


Dengan pasangan yang berjumlah tiga saja
Saya belum bisa adil, kata mereka
Padahal hampir tiap hari saya layani ketiganya
Sesering mungkin kami bersenggama
Saya puas, lemas, tapi tidak dengan mereka
"Sujudmu terlalu prematur!" kata Agama
"Gerakanmu minimal, kurang liar!" ujar Negara
"Stamina matamu payah, terlalu cepat lelah!" Buku-buku turut bersuara
"Jangan dulu coba-coba cari si nomor empat!" ketiganya kompak bersabda


Yasudah, saya menurut saja
Saya tidak akan mencari, tapi jangan salahkan si nomor empat kalau dia mencari saya
Sementara, cukuplah cinta saya dibagi tiga


Lalu, sayup-sayup saya mendengar suara
"Kalau si nomor empat bisa membuat cintanya jadi berlipat, sehingga bisa dibagi rata berempat, baru kita ijinkan dia"
Ternyata itu suara mereka bertiga
Sedang menyidangkan perkara suaminya


Agustus'09
Mengenang Alm.WS.Rendra

Jumat, 31 Juli 2009

Guruku Sayang, Dokterku Malang


Paling seimbang adalah alasan utama mengapa akhirnya saya memilih untuk menjadi dokter. Saya ingat, hingga detik-detik terakhir menjelang batas waktu pengumpulan formulir pendaftaran SPMB, pilihan menjadi dokter sama sekali tidak pernah terlintas dalam benak saya. Namun entah kenapa dalam pertapaan singkat yang saya lakukan, tiba-tiba, ting! Kata dokter tiba-tiba muncul, lengkap dengan bohlam yang menyala terang di sebelah kepala seperti di film-film kartun. Saya telpon orang rumah, lalu di-acc, dan saya pilih pendidikan dokter UI sebagai pilihan pertama saya.

Ketika saya kecil, jika orang bertanya tentang cita-cita, maka saya selalu menjawab dengan keyakinan penuh: Profesor! Dulu, saya tidak tahu bahwa profesor itu guru besar, maha dosen, puncak intelektualitas tertinggi yang bisa didefinisikan manusia. Yang saya maksud profesor pada masa itu adalah scientist, ilmuwan, penemu, bukan guru besar. Saya selalu marah kalau ada yang bertanya,"Kenapa nggak jadi dokter aja?" "Nggak mauk, pokoknya mau jadi profesor!" ahahahaha. Dasar bocah sableng.

Seiring dengan makin bertambahnya usia dan dosis kedewasaan yang saya punya, bayangan masa depan untuk menjadi guru makin sering berlari-lari dalam pikiran saya. Guru itu pahalanya banyak. Diantara amal yang tidak akan terputus dan menjanjikan pahala yang terus mengalir adalah ilmu yang bermanfaat. Dan itu yang diberikan oleh seorang guru kepada muridnya. Saya sangat menikmati kegiatan mengajar, terutama jika melihat orang lain mengangguk-angguk paham atas penjelasan saya. Nah, ketika sampai di tahap orang yang saya ajari itu berkata,"Ooo.. .. gitu ya. Sip2. ngerti gue," Saya bisa sampai orgasme!

Tapi kalau dipikir2, kok ya kalau saya jadi guru, sepertinya kehidupan saya secara finansial kurang sejahtera, kurang secure. Apa ya, profesi yang di satu sisi orientasi utamanya memberi dan menyuplai sebanyak-banyaknya manfaat untuk orang lain, tapi di sisi lain menjamin kesejahteraan hidup untuk saya dan keluarga? Saya tidak kepingin jadi kaya, tapi cukup di level financially secure. Sepertinya, dokter adalah jawaban yang paling tepat. Jadi dokter itu belum tentu kaya, tapi insyaAllah tidak akan miskin, begitu kata salah satu senior saya di Fakultas Kedokteran.

Saya tidak pernah suka mengejar uang. Mungkin ini hasil didikan ayah saya yang selalu menekankan kesederhanaan dalam semua hal. Saya tidak suka jadi orang kaya, tapi saya tahu bahwa saya butuh untuk jadi orang kaya. Shodaqoh jariyah adalah pohon pahala, ladang amal yang merupakan previlege bagi orang-orang kaya. Agak sulit bagi orang yang tak punya duit untuk turut menyumbang pembangunan masjid, membangun sekolah, patungan mengaspal jalan umum, memberi tambahan modal usaha untuk industri kecil, dan berbagai peluang amal lain yang jelas-jelas membutuhkan uang.

Mohon maaf, saya tidak menemukan profesi lain di luar dokter dan guru yang visi misinya adalah memberi dan melayani. Maka dari itu, tidak heran jika masyarakat akan sangat marah ketika kesehatan dan pendidikan dikomersilkan, dibuat hitung2an ala pedagang atau pengusaha. Karena dalam kamus kebanyakan orang, dokter dan guru adalah profesi yang seharusnya tidak berpamrih, dan haram dibuat neraca laba-ruginya. Apesnya, ketika kesehatan serta pendidikan dijadikan bisnis, dokter dan guru adalah profesi yang paling menderita, karena menerima komplain paling banyak dari para customernya. Ketika biaya pendidikan mahal, pengelola institusi pendidikan dihujat. Ketika biaya kesehatan mahal, dokter dicaci maki, dicap komersil dan tidak ikhlas. Padahal, berapa sih gaji guru, dosen, dan pendapatan dokter?

Dalam mata rantai bisnis kesehatan dan pendidikan, dokter dan guru itu ada di rantai makanan terbawah, mirip tikus atau kodok. Predatornya adalah penerbit, kontraktor, dan pabrik farmasi. Ketika biaya pendidikan mahal, yang harus repot memikirkan pelanggan adalah dokter dan guru. Padahal kontributor biaya terbesar adalah masalah infrastruktur, bukan jasa, yang perannya dilakoni penerbit, kontraktor, pabrik farmasi dan teman2nya. Biaya beli obat jelas jauh lebih mahal daripada jasa dokter. Ongkos buku jauh lebih mahal daripada uang SPP. Dan uang pangkal sekolah yang biasanya untuk perbaikan gedung hampir tidak pernah tidak memberatkan siswa dan menjebol dompet orang tua.

Masyarakat kita jarang sekali menyoroti kenapa para penerbit tidak kunjung memberikan harga spesial untuk buku-buku sekolah. Pasien juga jarang mempertanyakan kenapa pabrik obat tidak punya niat untuk memproduksi obat murah secara istiqomah. Dan orang juga seringkali luput untuk menuntut para pemborong dan arsitek untuk tidak menggunakan hitung-hitungan konvensional ketika diminta membangun fasilitas pendidikan atau kesehatan. Kompensasinya, sebagai garda terdepan, dokter dan guru lah yang harus berperilaku sebagai customer service yang baik, menjelaskan, menentramkan, serta membantu mengelus dada masyarakat.

Kata salah seorang guru saya, masalahnya berpangkal di political will, perkara kemauan. Kalau will-nya sudah ada, how-nya akan mengikuti, dan way-nya akan langsung tampak jelas. Karena itu pemerintah punya peran yang sangat besar di sini.

Dalam primbon saya, penanganan masalah yang sudah kadung bersifat sistemik itu butuh solusi yang juga sistemik. Harus di bom dulu, baru masalah yang tersisa ditembaki satu per satu. Masing-masing punya peran sendiri, sesuai maqom dan derajatnya, baik yang ngebom, atau yang menembak. Pemerintah yang memang punya bom, harus berani ngebom. Dan para dokter dan guru yang punya senapan, silakan menembak. Kalau pemerintah ogah ngebom, saya mau jadi eksekutornya, jadi pelaku pemboman. Tapi sebelum sampai di tahap itu, saya masih harus banyak belajar untuk jadi penembak jitu. Banyak membaca, meminta pemeriksaan penunjang diagnostik yang sesuai keperluan, membuat resep yang rasional, dan tahu kapan harus segera merujuk.
Wallahua'lam.

Dahulukan Warung!


Hari itu saya menerima sekitar 40sekian pasien. Jika saya bekerja dalam waktu 7 jam, atau 420 menit, artinya setiap pasien rata-rata saya kerjakan selama 10 menit. Cukupkah? Menurut saya tidak. Secara saya nggak bisa lagi ngobrol dan bercanda dengan pasien seperti yang selalu saya lakukan ketika koAs, dan pemeriksaan yang saya lakukan tidak seteliti ketika masih sekolah. Tapi saat istirahat siang, senior saya berkata,"Ya....wajar kok. Saya dulu juga waktu baru awal2 masi kayak kamu, agak lama periksanya." Heh??? 10 menit ternyata udah agak lama toh? Padahal kalo lagi ujian OSCE ndak berasa tuh, cuma dapet 2 station. Hehe. (Tapi kalo lagi baksos sih, 2 menit juga cukup, wkwkwkwk)

Ternyata dokter umum di kota besar tugas utamanya memang screening, memisahkan pasien mana yang betul2 sakit patologis, dan mana yang sakit fisiologis. Karena sebagian besar pasien memang cuma sakit fisiologis, dengan penyakit2 yang swasirna, yang bakalan sembuh sendiri meskipun ga dikasi obat. Terbukti dari catatan daftar pasien di klinik tersebut, ada dokter yang bisa terima sampai 100 pasien sehari. Malahan guru saya, seorang konsultan anak, gosipnya terima pasien sampai 200an orang sehari. Dugaan saya, begitu orang tuanya bilang,"Batuk dok," sang dokter udh langsung menulis paket obat batuk pilek yang sudah biasa diresepkan.

Edukasi skala massif sepertinya adalah pekerjaan rumah yang harus segera dikerjakan oleh semua tenaga medis di Indonesia. Kebanyakan pasien-pasien Indonesia adalah pasien-pasien "bodoh", yang memiliki pengetahuan medis yang saaaaaangat minimal. Sebagian pasien banyak yang kelewat kuatir. Batuk baru sehari, langsung ke dokter. Demam baru tadi pagi, ke dokter. Tapi, di sisi lain banyak juga yang terlalu cuek. Tumor udah segede gaban, baru datang berobat. Ulkus kornea sampai udah ga bisa ngeliat, baru kalang kabut.

Bukan maksud saya membodoh-bodohkan pasien, dan bukan tujuan saya menyalahkan masyarakat awam. Tidak terdiseminasinya informasi itulah yang salah, yang sejatinya harus dikoreksi. Dan ini tugasnya yang punya informasi, siapa lagi kalau bukan dokter dan tenaga medis lain.
Dokter harus rajin ngomong, harus getol ngasi penyuluhan. Dokter juga kudu bisa nulis, syukur2 punya blog/website, atau bikin majalah. Nggak sulit sepertinya untuk membagi2kan leaflet seminggu sekali ke tetangga2 sekitar tempat praktek kita agar mereka lebih teredukasi. Mengerti kapan mereka harus ke dokter, dan kapan mereka cukup berobat sendiri, serta tindakan awal apa yang harus dilakukan. Dengan begitu mudah2an jumlah pasien dalam sehari nggak akan terlalu banyak, sehingga dokter punya cukup waktu untuk memeriksa dan mengobati dengan optimal. Pasien juga akan senang karena mendapatkan pelayanan yang holistik dan nggak perlu repot mengantri terlalu lama.

Tercatat hari itu hanya ada beberapa saja pasien saya yang memang layak berobat, yang datang bukan dengan keluhan konvensional. TB anak, dislokasi achilles dextra pasca KLL yang cuma saya kasi analgetik-wound toilet-fiksasi-lalu rujuk (hehehehe:p), dispepsia berat yang harus saya suntik antiemetik, ulkus DM yang mesti di wound toilet, tumor di daerah nasal (meningokel?ensefalokel?ap
a si tu?), varicella, skabies (ga sembuh2 meski udh diobatin poli kulit RSCM), dan BKB yang butuh inhalasi. Sisanya? Batuk-pilek-pusing-mual-demam-pegel2-mencret, yang baru 1 hari. Haduh, ibu, beli obat warung dulu aja!

Selasa, 21 Juli 2009

Mendadak Six Pack

Ada perbedaan yang sangat mencolok antara atlit dan penggemar fitness center. Sekilas, morfologi dan bentuk keduanya secara fisikal memang mirip. Ciri fisik yang dominan, selain perut bercorak bujur sangkar, yang biasanya berjumlah 2 sampai 6, seluruh otot-otot mereka seakan berlomba2 menonjolkan diri masing-masing. Nggak ada yang mau kalah, mulai dari lengan, punggung, paha, sampe ke betis, semuanya hipertrofi, semuanya kelihatan kekar. Bahkan kadang2 ada yang jarinya jadi jempol semua, karna saking seringnya dilatih.

Dengan penampakan yang sebelas-duabelas ini, perbedaan utama kedua spesies ini adalah di tujuannya, orientasinya. Buat orang yang doyan nge-gym, para fans fitness center, menggapai bentuk fisik idaman adalah tujuan, target, dan hasil akhir yang ingin dicapai. Jadi, jangan harap ketika tekad bulat sudah dicanangkan untuk mendesain badan yang sterek mirip Ade Rai, si gym-er ini bakal berhenti di tengah jalan sebelum bodynya berhasil dibentuk. Karena, sekali lagi, buat mereka hal ini adalah ultimate goal. Padahal, kalo dicari padanan kata fitness di kamus bahasa Indonesia, kita akan temukan kata bugar. Makannya arti fitness center itu pusat kebugaran. Bugar itu sehat. Sehat itu jelas bukan cuma fisik. Kata WHO, sehat itu kondisi sejahtera mulai dari fisik, mental, sampe sosial. Jadi, di fitness center atau di gym, seharusnya orang nggak cuma terfokus membenahi kebugaran fisik, tapi juga mental dan sosial. Sebuah gym yang baik, seharusnya disetting agar penggunanya punya kesempatan berinteraksi sosial dengan nyaman, dan mengembangkan kesehatan mental dengan baik. Salah satu pendekatan untuk sehat secara mental adalah pendekatan spiritual. Berarti seharusnya di gym juga disediakan Musholla, gereja, pure, vihara, atau sinagog, lengkap dengan Al-quran, Bible, weda, dan kitab suci masing2. Mudah2an dengan begitu para pecinta fitness center ini bisa lebih fit, lahir dan batin.

Nah, buat seorang atlit, bentuk fisik yang kekar, padat, pejal, dan solid ini adalah cuma efek samping, sekedar bonus belaka. Kebetulan, karena saking seringnya mereka latihan dan olahraga, tanpa disengaja otot2 yang sering digunakan itu jadi hipertrofi. Perut mereka, yang diisi cukup kalori itu, mau tidak mau harus mengalami nasib yang sama, menjadi lebih ramping dan bercorak persegi. Bukan, bukan maksud mereka untuk membentuk badan. Tapi mereka tidak berdaya dan cuma bisa pasrah menerima karunia akibat perbuatan mereka yang terlampau sering berolahraga.

Akhir2 ini, makin banyak iklan yang mengutip kalimat legendaris jendral Naga Bonar,”Apa Kata Dunia?”
Pengguna nomor urut satu dari kalimat ini kalo tidak salah adalah orang2 Dirjen Pajak, disusul orang2 KPK, departemen Kehakiman, dll. “Hare gini masi KKN? Apa kata Dunia?” “Hare gene ga bayar pajak? Apa Kata Dunia?” dan seterusnya.
Buat saya, kalimat ini agak toksik, beracun, dan sedikit bahaya. Saya nggak tau persis rentang dosis amannya berapa, dan pada dosis berapa dia bisa jadi beracun. Tapi, pokoknya toksik, titik. Secara content sebenernya gak masalah, tapi contextnya, kemasannya, membuat kita harus siaga. Peduli banget sih sama dunia?

Di antara orang2 yang saya kenal, nggak sedikit juga yang kelewat peduli dengan dunia. Fokus mereka adalah orang lain, mulai dari teman, sahabat, orang tua, dosen, pacar, istri, suami, dll. Masa depan mereka ada di orang lain, letak kebahagiaan mereka ada di orang lain, benar-salah mereka tergantung orang lain. Kalo orang lain senang, berarti dia benar. Kalo orang lain kecewa, berarti dia salah. Mereka bukan terfokus pada prinsip, atau pada value tertentu yang diyakini benar.
Misal, awalnya dia yakin bahwa kejujuran adalah value yang benar. Tapi ketika dihadapkan pada kondisi teman2 di sekitarnya nggak memegang nilai yang sama, maka kejujuran tadi lepas, lumer, dan nggak lagi digenggam. Awalnya sih, kita yakin mau ngerjain ujian sendiri. Tapi, kok, soalnya susah ya, yang lain pada nyontek, yaudah, gimana lagi, terpaksa lah ogut ikut nyontek. Awalnya sih, udah deklarasi: korupsi haram!! Tapi, kok, temen2 pada korupsi berjamaah. Ikutan ah....

Orientasi, niat, fokus, akan menentukan nilai dari suatu tindakan. Tinggal kita yang memilih, apakah orientasi kita adalah value yang kita yakini benar, atau kepuasan orang lain atas apa yang kita lakukan. Tapi yang jelas, setau saya, agak sulit untuk memuaskan semua orang tanpa ada kecuali. Tindakan apapun yang kita lakukan, akan selalu ada orang lain yang nggak puas, kecewa, merajuk, ngambek, nggak setuju, bahkan sampe bikin demonstrasi. Ketika ada dua orang yang sama2 punya motto: “saya pantang korupsi”, tapi yang satu karna memang punya prinsip yang keukeuh pada kejujuran, dan yang lain punya mentalitas “Apa Kata Dunia?”, jelas keduanya punya kualitas yang berbeda.

Jangan sampai kita cuma sibuk memoles kulit yang sebatas permukaan. Hal seperti itu terlalu semenjana, medioker, dan terlalu dangkal. Kalau misalkan suatu saat tiba2 dunia memuji kita, yah, alhamdulillah, apa boleh buat, itu efek samping dari perbuatan yang bersumber dari value yang kita yakini benar. Tapi, kalo2 di kesempatan lain dunia justru mengutuk, menyumpah-serapah, dan banyak orang yang kecewa karena tindakan kita, gak masalah, yang penting kita sudah melakukan sesuatu yang seharusnya.

Seperti halnya 6 buah kotak di perut para atlit yang terbentuk secara tidak sengaja, pujian dari dunia atas perbuatan kita sebaiknya juga terjadi dengan cara yang sama. Tiba-tiba, dan bukan disengaja.
Orisinil, bukan artifisial. Asli, bukan bajakan.
Karena, daripada pusing2 memikirkan “Apa Kata Dunia?” lebih baik kita memikirkan pertanyaan,”Apa Kata Akhirat?”. Itu juga kalo kita percaya adanya akhirat, hehehe.
Wallahua’lam.