Selasa, 29 Desember 2009

Integrated Community Empowerment Program (ICE-Program)®


Pemberdayaan Komunitas Terintegrasi
by: Hilmi Sulaiman Rathomi, MD

Rasionalisasi:
Penatalaksanaan masalah sosial di masyarakat harus dilakukan secara holistik, ekliktik, dan komprehensif. Setiap individu harus dijamin dapat memenuhi kebutuhan hidup primer dan memiliki akses kebutuhan dasar, dan jaminan tersebut harus terintegrasi. Antara satu jaminan/fasilitas saling menjadi syarat bagi jaminan yang lain dan saling terkait.
Mobilitas vertikal lintas generasi hukumnya wajib. Karena itu, lingkaran setan mata rantai kemiskinan harus diputus. “Orang tua boleh supir angkot, tapi anaknya minimal mesti jadi pilot”

Tujuan Program:
Pemberdayaan komunitas kurang mampu secara terintegrasi. Hasil akhir yang diharapkan adalah komunitas sejahtera, yang minimal mampu memenuhi kebutuhan primer (sandang, pangan, papan) dan memiliki akses kebutuhan hidup dasar (kesehatan dan pendidikan).

Komponen Program:
• Education Empowerment
• Health Empowerment
• Economic Empowerment
• Social Empowerment

Fasilitas dan Persyaratan:
1. EduPower
Fasilitas: Mengikuti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), wajib belajar (WAJAR) 12 tahun
Syarat:
- Imunisasi anak lengkap
- Orangtua bekerja
- Keluarga melakukan general checkup sesuai jadwal
2. HealthPower
Fasilitas: Mendapat imunisasi dasar lengkap, general checkup berkala, asuransi kesehatan
Syarat:
- Anak mengikuti PAUD dan WAJAR
- Orang tua bekerja
3. EcoPower
Fasilitas: Memiliki pekerjaan
Syarat:
- Anak mengikuti PAUD dan WAJAR
- Imunisasi anak lengkap
- Keluarga melakukan general checkup sesuai jadwal
4. SocialPower
Fasilitas: Mendapatkan rumah/tempat tinggal yang sehat dan layak huni
Syarat:
- Orang tua bekerja
- Anak mengikuti PAUD dan WAJAR
- Imunisasi anak lengkap
- Keluarga melakukan general checkup sesuai jadwal

Algoritma Program:
• Pemilihan kawasan binaan (RT/RW)>>pengumpulan data kependudukan/pemetaan penduduk>>klasifikasikan menjadi 2: mampu dan kurang mampu
• Penduduk kurang mampu>>informed consent program>>mulai dengan pemberian imunisasi dasar pada anak, PAUD, dan Sekolah (sesuai usia anak masing2)>>evaluasi selama 3 bulan
• Selama 3 bulan, para orang tua diberikan pelatihan ketrampilan kerja sesuai bidang yang akan ditekuni masing2
• Jika hasil evaluasi setelah 3 bulan:
o Baik>>berikan pekerjaan kepada orang tua>>evaluasi imunisasi, PAUD, sekolah (pada anak), dan performa pekerjaan (orang tua)>>evaluasi 3 bulan>>jika hasil baik>>berikan perumahan layak huni dan sehat>>evaluasi dalam 3 bulan>>berikan jaminan kesehatan>>evaluasi secara berkala
o Buruk>>intervensi orang tua>>jika berhasil, mulai program dari awal>>jika gagal>>sanksi sosial untuk orang tua>>anak dipindah, diberikan orang tua asuh

Keterangan:
1. Orang tua bertanggung jawab sepenuhnya pada anak masing2. Ketika anak tidak sekolah, tidak imunisasi, atau melakukan kewajiban lain, maka sanksi akan dikenakan pada orang tua
2. Semua fasilitas yang diberikan adalah saling terkait, dan semua persyaratan harus dipenuhi. Jadi, untuk mendapatkan rumah sehat dan jaminan kesehatan (indikator kesejahteraan), orang tua harus bekerja, dan untuk bekerja, orang tua harus memastikan bahwa anak mengikuti sekolah, dan agar anak boleh mengikuti sekolah, anak harus dipastikan telah mendapat imunisasi dasar lengkap.

Special Issue: EcoPower
• Seperti kata pepatah, “Lebih baik memberi kail daripada seekor ikan”.
• Pendekatan pemberdayaan ekonomi, tidak bisa hanya sekedar memberi kail, tapi harus integratif, sesuai kontinuumnya.
• Kira2 seperti ini: Berikan ikan untuk sementara (simtomatik)>>ajari cara memancing>>berikan kail>>sediakan kolam/sungai/tunjukkan tempat yang banyak ikannya>>sediakan pasar untuk menjual ikan hasil pancingan (karena pasti akan sangat membosankan jika tiap hari hanya makan ikan)>>pastikan ada orang yang membeli ikan hasil pancingan
• Setelah memiliki ketrampilan kerja, masyarakat harus diberikan pekerjaan/tempat usaha. Untuk memiliki tempat usaha yang baik, harus terjalin kerjasama dengan pengelola pasar/pusat perbelanjaan. Sebagai kontrapretasi, perusahaan/pemberi kerja/penyedia tempat usaha bisa mendapatkan produk dengan harga murah.
• Agar ada konsumen yang membeli produk, harus diberikan kontrapretasi. Misal, produk karya komunitas tersebut dijual di satu toko semacam toko serba ada, dan konsumennya dibuatkan sistem member. Tiap member secara otomatis akan mendapatkan asuransi kesehatan, yang preminya adalah dengan membeli produk hasil kerja dari komunitas tadi.

Investasi:
• Biaya penyelenggaraan PAUD
• Beasiswa wajib belajar 12 tahun
• Biaya pelatihan ketrampilan kerja
• Pembuatan Rumah Sehat Layak Huni

Kerjasama:
• CSR Korporat bidang Industri >> feedback untuk perusahaan dapat berupa produk komunitas dengan harga murah, dll.
• CSR Korporat bidang Developer/kontraktor

Target:
• Dalam waktu 1 tahun, komunitas binaan telah mampu mandiri, sehingga tinggal dilakukan monitoring dan evaluasi program, dan bisa mencoba ekspansi ke komunitas target berikutnya.

Cumi-Cumi Cikeas


Saya tidak sedang dalam posisi membela Pak SBY, atau justru berada di sisi yang sama dengan Prof.DR.George Junus Aditjondro. Bukan masalah isi buku “Membongkar Gurita Cikeas” yang menggoda saya untuk menulis, karena saya sendiri belum membaca buku tersebut. Toh, kalaupun saya sudah baca, saya tetap tidak punya wewenang ilmiah untuk mengomentari isi buku tersebut. Jika pun ada orang yang memaksa saya untuk mengomentari isi buku itu, tanggapan saya mungkin sama levelnya dengan komentar ala mas2 tukang becak, abang2 tukang ojek, atau mbak2 yang menunggu pelanggan di warung kopi.

Adalah statement Aditjondro yang akhirnya menstimulasi saya untuk menulis. Statement ini mengusik ingatan ketidaksukaan saya tentang fenomena perdebatan melalui buku. Dalam berbagai wawancara, Aditjondro menyatakan bahwa dirinya adalah Doktor, SBY juga Doktor. Maka, jika ingin mengcounter buku yang telah dirilisnya, silakan SBY menulis buku, selesaikan dengan cara ilmiah. Bukan dengan mencekal bukunya, atau justru membawa perkara ini merembet ke meja hijau, meskipun dirinya siap untuk itu.

Jika masalahnya hanya soal haramnya mencekal peredaran buku, itu tidak saya tolak. Pun usulan untuk jangan menyeret perkara ini ke pengadilan, saya setuju 100%. Presiden harus memberikan contoh bagi masyarakat untuk menyelesaikan masalah secara gentlemen. Secara, masyarakat kita sekarang ini semakin cemen dan norak. Kena pukul dikit, ngadu ke pengadilan. Diledekin secuprit, ngadu ke polisi. Dokter salah ngomong satu kata, lapor ke pengacara, dijadikan isu malpraktik. Apakah berarti masyarakat kita semakin sadar hukum? Menurut saya tidak. Itu namanya cemen, pengecut. Karena nggak berani menghadapi sendiri, ngomong sendiri, dan menyelesaikan secara kekeluargaan, jadi mesti bawa2 pengacara. Siapa yang untung? Pengacara lah.

Nah, kalau bukan masalah pencekalan atau pengadilan, berarti yang tidak saya setujui di sini adalah masalah buku dibalas buku. Makin ke belakang, fenomena ini makin marak. Banyak pihak yang saling menghujat lewat buku, berantem bersenjatakan buku. Mulai dari NU lawan Muhamadiyah, Oposisi lawan Pemerintah, agama X lawan agama Y, gerakan IM lawan gerakan S, dst. Yang untung siapa? Penerbit, pebisnis buku. Yang rugi? Masyarakat. Satu, karena tidak mendapatkan konklusi dari perdebatan tersebut. Dua, karena jika ingin mengikuti perdebatan tadi hingga tuntas, masyarakat harus merogoh kantong lebih dalam untuk membeli buku2 yang dirilis oleh masing2 pihak. Pengarangnya? Cuma mendapat kepuasan semu karena bukunya banyak beredar, tapi tidak memberikan banyak manfaat untuk masyarakat. Mereka mengidap salah satu komplikasi narsisme yang paling serius.

Perdebatan melalui buku –menurut saya- akan selamanya kontraproduktif, karena hanya akan menjadi wahana masturbasi intelektual para pengarangnya. Mereka itu tidak mencari kebenaran, tapi pembenaran. Bohong besar jika tujuannya untuk mencerdaskan masyarakat atau membuka mata rakyat. Karena kebenarannya belum tentu teruji, belum tentu telah ditelaah dari sudut pandang yang berimbang. Jika memang ingin mengungkap kebenaran untuk masyarakat, silakan buat forum, duduk bersama, lakukan perdebatan, baru bukukan kesimpulannya, dan pasarkan seluas-luasnya.

Saya terpaksa membawa perkara ini ke persoalan global warming, ke wilayah environment sustainability. Karena seperti yang kita tahu, kertas itu mahal bung! Harus dihemat, direduksi penggunaannya jika kita tidak ingin berkontribusi pada memburuknya iklim dunia. Kalaupun terpaksa menggunakan kertas, jadikanlah dia kumpulan kertas yang bermanfaat, jadikan dia buku2 yang berkualitas. Bukan buku2 yang saling hujat, yang dibuat untuk menuntaskan syahwat penulisnya, padahal belum jelas kebermanfaatannya. Dan bukan pula buku2 plagiat yang tidak berkualitas, yang asal jadi dan hanya dibuat demi melampiaskan narsisme sang pengarang. Saya pernah sangat sebal dengan hal ini. Dulu, saya pernah melakukan kesalahan, tertipu karena membeli buku yang kurang bermutu, 2 kali, macam keledai. Pasalnya, buku yang bersangkutan dicetak ulang dengan judul yang berbeda, cover yang berbeda, oleh penerbit yang berbeda, dan semua buku di toko tersebut masih berplastik rapat. Ternyata, itu buku yang sama yang dulu pernah saya beli, dan jelek. Hhh....

Nah, bagi yang suka menulis, silakan menulis. Tapi tolong, jangan habiskan hutan Indonesia hanya untuk melampiaskan nafsu Anda yang ingin populer, famous, dikenal orang karena telah menulis buku ini dan itu. Bikinlah buku yang bagus, punya nilai tambah, bermanfaat, dan sesuai keahlian masing2. Bagi para penerbit, mbok ya lebih diseleksi karya2 yang masuk. Sekarang ini, untuk jadi penulis buku udah kelewat gampang. Tapi buku yang dirilis juga nggak sedikit yang kelewat nggak mutu. Tolong jangan cuma pertimbangangkan kepentingan bisnisnya, tapi juga manfaatnya buat orang banyak. Dan satu lagi, buat para pengacara, mbok ya jangan kayak orang kurang kerjaan, kurang duit. Semua dipanas2in untuk ke pengadilan. Toh, kami, para dokter juga sedang menggeser paradigma, dari sakit menjadi sehat. Kita sudah tidak lagi berharap banyak pasien, banyak orang sakit, tapi berusaha menjaga masyarakat tetap sehat. Kalian juga lah, silakan edukasi masyarakat, mana perkara yang bisa diselesaikan secara kekeluargaan, mana yang memang mesti menempuh prosedur hukum. Masalah rejeki mah, udah ada yang menjamin. Asal jangan bergantung pada manusia, tapi bergantunglah pada yang menciptakan manusia.
Wallahua’lam.

Minggu, 20 Desember 2009

Salahnya Ibu


Saya punya perbekalan alasan yang lebih dari cukup untuk akhirnya memutuskan menulis menjelang hari Ibu. Tidak ada niatan saya untuk latah, atau mengekor jutaan penulis lain yang pasti tidak ingin melewatkan momen ini begitu saja. Biasanya, mendekati hari Ibu seperti sekarang ini, hari-hari kita akan dipadati blog2 puitis dan kolom2 melankolis yang akan mengajak kita berkontemplasi betapa kita tak akan mampu membalas lunas cinta seorang ibu. Bahkan sebelum kita berhasil menamatkan satu tulisan saja, tanpa sadar air mata kita telah berhamburan, berebutan untuk keluar melalui sudut2 yang ada. Mata kita mendanau, sebuah telaga kecil telah tercipta dengan sempurna diantara kelopaknya. Air mata itu seperti mengiyakan pepatah bahwa kasih seorang Ibu memang akan sepanjang masa. Dia (air mata itu) seakan hadir untuk menyempurnakan ucapan terimakasih kita untuk Ibu kita, karena diksi seringkali gagal mewakili suara hati secara presisi.

Bukan keahlian saya untuk memerah air mata manusia. Suatu kali pernah saya coba paksakan, tapi akibatnya justru serupa dengan usaha bunuh diri. Belum sempat saya tuntaskan itu tulisan, eh, air mata saya sudah berloncatan tidak karuan. Gagal total.

Beberapa hari lalu saya terpaksa membaca ulang Bumi Manusianya Pramoedya, dan Para Priyayinya Umar Kayam. Terpaksa memang, karena tidak direncanakan. Kebetulan ada seorang teman yang baru saja membaca, dan langsung jatuh cinta –katanya-. Saya punya ingatan yang telanjang bahwa buku2 Pram (dan Umar Kayam) memang meninggalkan kesan yang mendalam ketika saya khatamkan dahulu. Tapi ingatan tentang bagian mananya yang impresif, itu yang dibawa kabur oleh waktu, dicurinya dari gudang memori saya. Mungkin saat itu saya sedang tidak ada di rumah.hehe.Yah, terpaksa harus saya rebut kembali. Saya baca ulang.

Saya tidak ingin membahas tentang betapa perlawanan terhadap feodalisme dibahas dengan brilian di kedua buku itu. Concern saya saat ini, justru tentang para wanita di buku-buku itu, para Ibu yang berhasil lulus casting ala Pram dan Umar Kayam, sehingga ikut diabadikan dalam buku2 mereka.

Keprihatinan saya yang paling dalam seketika muncul ketika mengetahui bahwa ada orang yang mencuri –maaf- celana dalam wanita, divonis harus mendekam di penjara selama 5 tahun. Ada pula buruh yang mencuri 2 kilogram kapas senilai 4 ribu rupiah, mesti dikurung sembari menunggu putusan sidang. Mengapa mereka dihukum? Karena mereka mengaku, pikir saya. Sementara itu, ada orang lain, yang bukan buruh, bukan fakir, bukan miskin, dan tidak sedang kelaparan, mencuri uang milik rakyat bernilai trilyunan. Mungkin kalau uang itu kalau dibelikan kapas bisa dapat berton-ton, atau bisa juga untuk membeli celana dalam yang bisa dipakai oleh seluruh rakyat Indonesia. Dipenjarakah mereka? Boro2. Bisa jadi saat ini mereka sedang dugem atau main golf menghabiskan uang haram itu. Ironisnya, mereka tidak mengaku. Mereka lebih suka berlakon ala bajaj, ngeles, dan menyumpal palu para penegak hukum dan menjejali dompet mereka dengan uang hasil curian juga. Dugaan terbaik saya, minimal ada dua hal yang berperan dalam mencetak mental busuk para pejabat kita. Satu, masalah keberkahan. Kedua, perkara peran keibuan.

Mungkin setengah berbau kebatinan, tapi saya sangat percaya dengan yang namanya berkah. Uang yang tidak halal, berapapun jumlahnya tidak akan cukup untuk membeli keberkahan Allah. Makanan yang tidak baik, didapatkan dari cara yang menjurus haram, sesedikit apapun, bisa mencerabut keberkahan Allah dari konsumennya. Orang yang hidupnya kehilangan keberkahan, jalan hidupnya akan sulit langgeng, dan bisa2 gagal mewujudkan misi untuk menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain.
Para oknum pejabat, orang-orang kaya, para Jendral, dan para pembesar lainnya yang sekarang sedang menjadi tirani di negeri ini –prediksi saya- mayoritas adalah anak para priyayi jaman kolonial. Mereka adalah keturunan yang lahir dari kaum yang mengais rejeki dari menggerogoti belulang bangsa sendiri demi kemuliaan diri dan keluarga. Mereka menciumi sandal para kompeni demi mendapatkan jabatan tinggi. Yah, meskipun ada pula golongan priyayi yang memang mulia, yang memahami bahwa meningkatnya kedudukan beriringan dengan meningkatnya tanggungjawab untuk membangkitkan bangsa. Wallahua’lam, na’udzubillahi min dzalik, mungkin dari sinilah keberkahan anak keturunan mereka mulai terkikis.

Nah, yang kedua, masalah peran keibuan. Jika kita membaca sejarah, atau membaca novel sejarah semacam Bumi Manusia dan Para Priyayi, kita akan mudah untuk menyimpulkan bahwa peran perempuan dalam masyarakat Indonesia dahulu sangat terkerdilkan. Bahkan pada kaum priyayi sekalipun. Perempuan telah didesain memiliki hak yang kelewat terbatas, lalu mereka terpaksa mempercayainya, dan kepercayaan itu diwariskan pada anak perempuan dalam keluarga.
Pada masa itu -menurut saya- perempuan hanya diplot sebagai istri, bukan dipersiapkan untuk menjadi Ibu. Jobdesc perempuan disimplifikasi, dan ranah aktivitasnya dikerangkeng sebatas dapur, sumur, dan kasur. Yang paling gawat, potensi utama seorang Ibu sebagai pendidik digunduli dan dipangkas habis. Perempuan jaman itu tidak terdidik, dan tidak disiapkan untuk jadi pendidik. Wajar jika anak-anaknya kemudian seperti tidak pernah mendapatkan sentuhan didikan ala seorang Ibu, yang lebih banyak ke perkara softskills. Produk generasi itu memiliki kualitas budi pekerti yang minimal, mental yang melempem, dosis kejujuran yang kelewat sedikit, keberanian yang tipis, pemahaman agama yang dangkal, dan seterusnya. Sekolah formal bisa jadi akan kesulitan mengajarkan penatalaksanaan semua masalah tadi, tapi sekolah ala Bunda di rumah saya yakin pasti bisa.

Perempuan itu kadang serupa dengan pers. Dahulu dikekang, sekarang bebas. Mungkin memang terinspirasi dari pers, ada juga perempuan yang oportunis dan bertingkah kelewat batas. Macam infotainment, semua perkara di muka bumi dianggap jadi hak mereka untuk disiarkan, ditonton dan didengar seluruh pasang mata-telinga manusia. Pokoknya bebas. Ironisnya, mereka yang mempertuhankan kebebasan itu, walaupun di satu sisi sukses merebut kembali hak-hak perempuan yang sempat tercerabut, di sisi lain kewajiban utamanya justru terbengkalai. Sunnahnya jalan, fardhunya kedodoran.

Perempuan itu, sebelum menjadi apapun profesinya, sejatinya ia adalah calon Ibu. Maka ia harus belajar dan dikondisikan untuk mendapatkan kurikulum pendidikan keibuan. Dari kecil, kebanyakan orang tua kita lebih banyak menanyakan tentang cita2, profesi, mau jadi apa kelak ketika besar, dan mengecek setiap hal yang berkaitan dengan cita2 tadi secara berkala. Sudah mengerjakan PR atau belum, sudah belajar atau belum, dan seterusnya. Tapi perkara lain yang lebih pasti, bahwa si gadis ini akan menjadi Ibu, jarang sekali dikonfirmasi kemajuannya. Apakah si anak ini sudah cukup memahami agama, menguasai ketrampilan manajemen keuangan rumah tangga, memasak berbagai makanan yang memenuhi kebutuhan gizi keluarga, hingga kemampuan mendidik anak. Sayang sekali.

Yasudahlah, itu masa yang sudah lewat. Durhaka rasanya kalo kita menyalahkan orang2 tua kita atas apa yang terjadi pada diri kita sekarang. Urusan kita adalah masa depan, bukan masa lalu. Dalam konteks peningkatan peran keibuan, yang bisa kita perbuat kini adalah hendaknya masing2 perempuan mempersiapkan diri untuk menguasai seluruh kompetensi wajib seorang Ibu. Para lelaki pun tidak bisa tak acuh, berpikir bahwa ini bukan porsinya. Karena bisa jadi anak kita nanti adalah perempuan, yang juga akan menjadi calon Ibu, yang otomatis harus terpapar dengan kurikulum pendidikan calon Ibu. Karena itu, pastikan calon anak kita nanti akan mendapat didikan yang baik, dari seorang Ibu terpilih, yang juga baik.
Jangan lagi mereproduksi generasi bermental tempe, yang bahkan untuk bertobat dan mengakui kesalahan diri sendiripun malu.
Selamat hari Ibu.
Selamat menjadi Ibu dan calon Ibu.
Doa saya untuk seluruh Ibu di seluruh dunia.

Jumat, 04 Desember 2009

Ibrohnya Ibrohim


Tingkat saturasi kita pada tema yang satu ini mungkin sudah maksimal. Mulai dari Idul Adha pertama, bisa jadi khutbah yang disampaikan adalah juga tentang bagaimana kita mengambil pelajaran, hikmah, dan ibroh dari peristiwa qurban yang dieksekusi oleh Nabiyullah Ibrohim. Jika Anda lahir 1400 tahun yang lalu, Idul Adha kali ini mungkin jadi momen ke 1400an Anda mendengar tentang cerita Nabi Ibrohim. Beuhh.... Subhanallah, bisa jadi Anda seharusnya sudah jadi PhD tentang masalah qurban, dan hafal di luar kepala seluruh detail kejadian qurban tersebut. Bosan? Wajar saja. Membaca ulang diktat kuliah 2 kali saja saya sudah bosan, apalagi 1400 kali. Tapi anehnya, sudah 24 tahun ini setiap hari saya makan 3 kali sehari. Artinya, saya sudah makan sebanyak 365x3x24= 26.280 kali! Untungnya saya belum bosan, hehe, alhamdulillah^^

Mengulangi aktivitas kontemplasi tentang ibroh di balik perjalanan hidup Ibrohim setiap tahun, bisa jadi membuat kita jenuh. Tapi, dalam pembelajaran, pengulangan adalah salah satu proses yang paling penting. Jika kita ingin menjadi pakar dalam suatu hal, dengan melakukan hal tersebut secara repetitif, ratusan, ribuan, atau jutaan kali, insyaAllah akan mengantarkan kita mendekat ke arah tujuan tersebut. Silakan tanyakan pada Reggie Miller, berapa juta kali dia berlatih shooting sebelum menjadi three-pointer kelas wahid, andalan Indiana Pacers era 90an. Silakan wawancara David Beckham untuk tahu sudah berapa kali dia berlatih menendang untuk mendapatkan predikat pakar dalam akurasi tendangan bola mati. Atau silakan telefon ke akhirat, minta sambungkan dengan Marcus Tullius Cicero, dan tanya langsung berapa banyak dia mengulang latihan orasi, sehingga didapuk menjadi orator terciamik sepanjang sejarah manusia. Yah, begitulah buah keistiqomahan untuk melakukan repetisi.

Dari sekian banyaknya ibroh yang mengucur deras dari hidup Ibrohim, kali ini ember saya cuma mampu menampung tiga. Pertama, bahwa syariat Allah adalah solusi. Hal ini mutlak, absolut, tidak dapat diganggu dan digugat. Sejanggal apapun suatu perintah atau larangan yang telah disyariatkan oleh Allah, pasti terdapat kebaikan diujungnya, dan melakoninya adalah password kesuksesan dunia-akhirat. Tidak layak kata aneh disandingkan berdekatan dengan ketentuan Allah. Karena yang namanya janggal, aneh, ganjil, dan tidak masuk akal, adalah istilah yang hanya dikenal dalam kamus logika manusia, yang terbatas oleh daya jangkau indra seorang makhluk yang jauh di bawah kapasitas Allah. Jadi, aplikasi dari ibroh yang pertama ini adalah -seperti yang Nike bilang- Just Do It. Begitu kita mengetahui suatu perintah, lakukan. Begitu kita tahu bahwa Allah melarang, tinggalkan. Hikmah akan muncul belakangan, seperti domba yang menjadi substitusi posisi Ismail. Keluarnya belakangan kan? (Mbeeekk..)^^

Fokus pada pembinaan generasi penerus adalah ibroh yang kedua. Ini tidak perlu diperdebatkan, karena kita semua tahu bahwa Ibrohim adalah bapaknya para Nabi. Anaknya dua-duanya nabi, cucunya nabi, cicitnya nabi, sampai berujung pada Rasulullah Muhammad Saw. Bisa dibayangkan orang tua seperti apa yang mampu menghasilkan generasi penerus yang berkelas nabi, keturunan yang memiliki hati sejernih Ismail, kesabaran sekelas Ya’kub, ketampanan selevel Yusuf, dan kesempurnaan pribadi sekualitas Muhammad. Bukan kebetulan jika Ibrohim dikarunia keturunan dengan kualitas nomer satu. Karena ketika Allah menganugrahkan predikat pemimpin manusia kepadanya, Ibrohim pun memohonkan posisi dan kompetensi yang serupa untuk anak-cucunya. “Wa min dzurriyyati?” begitu kata Ibrohim.
Ingat hadits tentang tiga perkara yang tidak akan terputus aliran pahalanya? Salah satunya adalah anak yang shalih, yang senantiasa mendoakan orang tuanya. Saya tidak mampu membayangkan derasnya aliran doa dari puluhan Nabi, yang senantiasa teriring dan mengalir untuk Ibrohim AS.

Orang yang besar, adalah orang yang mampu melakukan hal-hal besar. Ini adalah ibroh ketiga, ibroh terakhir yang mampu saya tampung saat ini. Waktu seseorang, jika tidak dihabiskan untuk melakukan hal-hal besar, maka akan habis untuk hal-hal yang kecil. Sepanjang usianya, Ibrohim sudah teruji mampu mengeksekusi perkara-perkara besar, mulai dari berkonfrontasi dengan ayahnya sendiri, mencari Tuhan, mengkudeta Namrudz, steril hingga usia lanjut, diperintahkan untuk menyembelih Ismail, membangun ka’bah hanya berdua, dan seterusnya. Puncaknya, Allah menganugrahkan kedudukan sebagai Imam seluruh umat manusia kepadanya. “Dan Ingatlah ketika Ibrohim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrohim menunaikannya dengan sempurna. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia” (2:124)
Kita? Seringkali kita menghindar mengerjakan perkara-perkara berisiko hanya untuk cari selamat, agar tidak pernah ketahuan gagal. Jadi mahasiswa selalu ingin diuji oleh dosen2 baik. Jadi dokter tapi hanya berani menangani pasien batuk pilek, atau pasien2 baksos. Jadi pengusaha tapi selalu kuatir untuk membuka bisnis baru. Jadi karyawan tapi selalu nyaman dengan bidang yang sudah biasa digarap, dan tidak berani mengambil risiko ketika diserahi amanah yang lebih berat. Mau jadi orang besar dengan cara seperti ini? Jangan harap.

Saya doakan, semoga ember Anda lebih besar, untuk dapat menampung lebih banyak ibroh yang bercucuran dari hidup Nabi Ibrohim. Pertanyaan terakhir dari saya, meskipun kita mengetahui bahwa Rasulullah Muhammad adalah Nabi penutup, yang paling mulia, tapi mengapa setiap tahiyat kita selalu mendoakan agar beliau mendapat keselamatan dan berkah yang setara dengan Ibrohim? Jadi mana yang sebetulnya lebih mulia? Muhammad atau Ibrohim? “Laa nufarriqu baina ahadim mirrusulih.” Mungkin pertanyaan ini tidak perlu dijawab.
Selamat Idul Adha.
Wallahua’lam.

Sabtu, 10 Oktober 2009

Rekomendasi: Ketika Cinta Bertasbih 2


Bukan suatu kesengajaan kalau akhirnya saya nonton KCB 2. Pagi tadi saya pergi ke (mantan) kosan, demi melunasi tagihan oleh2 untuk para (mantan) tetangga. Puas berbasa-basi, saya lanjutkan perjalanan ke klinik tempat kerja saya, dengan tujuan yang sama (nyetor oleh2), sekaligus meminta surat sehat untuk kelengkapan pendaftaran uji kompetensi. Ba’da dzuhur saya pulang dari klinik. Sesampainya di depan Arion, ternyata hujan. Jadilah saya putuskan untuk berteduh sebentar, sambil mencoba thowaf di Arion. Karena belum pernah menjelajah Arion, saya niatkan untuk melihat2 ke lantai atas, sampai ke tempat bioskop. Eh, ternyata jam tayang KCB 2 di salah satu studio tinggal setengah jam lagi. Haha. Yasudah, saya beli saja tiketnya.


Sambil menunggu pintu dibuka, saya sms beberapa teman sambil baca buku yang sebelumnya sempat saya beli di Gunung Agung. Dalam kondisi pikiran yang masih terinterferensi gempa Padang, dalam hati saya berpikir,”Kalo tiba2 gempa bisa gawat nih urusannya. Bisa tewas di bioskop. Su’ul khotimah dong. Haduh, gimana ya.”

Untungnya pintu studionya keburu dibuka. Haha! untungnya? Kok untung? :p


Saya tidak menonton KCB 1. Karena kata orang filmnya cacat, gara2 ada tulisan to be continued di bagian akhir. Tapi berhubung saya sudah tahu ceritanya, bukan masalah kalau saya langsung nonton jilid dua nya.


Film ini bagus, asli bagus. Islami, betul2 islami. Taushiyahnya meluber, baik yang tersirat atau tersurat. Adegan2 yang “ehm2” ternyata bisa disiasati dan tidak ditampilkan, tanpa mengurangi nilai estetisnya. Dialog2 saru model akad nikah, tidak disuarakan. Kontak fisik antar non mahram dalam arti yang sebenarnya (bukan mahram ketika di film), sangat diminimalisir. Tapi tetap saja, seperti salah satu dialog dalam film yang disarikan dari Al Hikam, syaithon itu menggoda dengan saaangat lembut.


Buat saya, menonton film ini sangat dilematis. Penuh pemandangan surga, tapi sekaligus beraroma neraka. Hadoohhh, jujur saja, sepanjang film ini saya terserang vertigo akut (eh, emang ada?). Kepala saya pening karena bingung mata ini mau diarahkan kemana, atau telinga ini kalo mau dibikin semi permeable gimana cara. Akhirnya, saya cuma bisa beristighfar, tapi pandangan masih ke layar, haha.


Sebagai seorang lajang konvensional, meskipun dibungkus dalam kemasan film islami, tetap saja panorama perempuan berparas ala bidadari surga tidak bisa di tak acuhkan begitu saja oleh mata saya. Dan gawatnya, pemandangan seperti itu bertaburan di sepanjang film. Mulai dari si kecil Sarah, sampai dr.Asmirandah. Telinga pun begitu. Ya.. gitu deh. Saya takut mendeskripsikannya. Memang seharusnya dibuat semi permeabel, tersaring timbre suara siapa yang harus ditolak, suara siapa yang boleh masuk sampai di otak, dan suara siapa yang boleh masuk sampai di hati.


Syaithon itu betul2 halus. Ketika seseorang tidak mempan digoda dengan dosa besar, dia akan melanjutkan dengan godaan dosa kecil. Ketika dosa kecil berhasil dihindari, berlebihan dalam hal yang mubah akan dibisikkannya. Jika masih belum mempan, dia akan berkata,”Lakuin ibadah yang enteng2 aja coy. Kalo gak, yang wajib aja dah, sunnahnya kaga usah.” Dan sebagai senjata pamungkas ketika semua strategi gagal, bid’ah dan berlebihan dalam agama akan menjadi andalannya.


Yah, diluar betapa halus&rapatnya jejaring syaithon yang saya rasakan selama nonton, film ini tetap patut mendapat apresiasi. Usaha Kang Chaerul Umam, Kang Abik, dan seluruh timnya, tetap saya hadiahi seluruh jempol, dan doa semoga bisa terus berkarya.

Meskipun vertigo, saya tetap sangat menikmati menonton film ini. Selain emosi yang teraduk-aduk –yang butuh usaha ekstra untuk tidak terlalu sering cengengesan dan berkaca-kaca-, kemiripan beberapa lakon dengan keseharian saya juga menambah daya tarik film ini buat saya pribadi. Dedy Mizwar yang berlagak medok mengingatkan saya akan Fuad, si Ustadz betawi yang suka bertutur jawa. Bu’e, tentu mengingatkan saya akan Bunda saya di rumah. Dan Lia, juga membawa memori saya terbang ke Malang, ke adik saya.


Sampai saat ini, film ini adalah adaptasi novel terbaik yang pernah saya tonton. Mungkin karena saya memang jarang nonton, haha. Atau karena ternyata saya masih orang Indonesia normal, yang sangat terobsesi dengan cerita yang happy end, khusnul khotimah. Karena seperti itu pula harapan saya untuk akhir saya nanti.

Wallahua’lam.

Selasa, 06 Oktober 2009

Pejabat Alas Kaki


Sepatu itu munafik. Di satu sisi, dia mengaku bahwa dirinya telah resmi dilantik dan memangku jabatan sebagai alas kaki. Untuk bisa menduduki jabatan tersebut, sepatu telah berkampanye dimana-mana bahwa dia bisa menjamin kesejahteraan kaki tuannya dari kejamnya jalanan. Mulai dari puntung-puntung rokok yang lupa dimatikan, ribuan kerikil-kerikil tajam, sisa-sisa permen karet yang bertebaran di tempat2 tak terduga, hingga panasnya aspal jalanan, telah dijanjikannya bisa ditangkal. Tapi, pada saat yang bersamaan, secara simultan, sepatu memberikan ancaman yang tidak kalah menakutkan buat kita: lecet. Lecet dan luka yang muncul pada kaki akibat bergesekan dengan sepatu tentu tidak kalah menyebalkan dengan nyeri karena tersundut rokok, menginjak kerikil, atau lepuh karena terbakar panasnya aspal.

Jika kita keukeuh untuk tidak melengserkan si sepatu dari jabatannya, kita akan dipaksa untuk merogoh kantong lebih dalam untuk membeli penangkalnya: kaos kaki. Dengan kaos kaki, teror lecet yang biasa ditebar oleh si sepatu tidak akan terlalu menakutkan. Tumit jadi lebih terlindung, jempol jadi lebih aman. Memakai sepatu pun terasa lebih nyaman. Sayangnya, masa jabatan kaos kaki biasanya lebih singkat. Ia sering diberhentikan dengan paksa oleh sepatu, yang mungkin kedudukannya memang lebih tinggi.

Pada periode yang berbeda, jabatan alas kaki terkadang dipegang oleh munafik yang lain, yang tidak kalah ganas: Sandal Jepit. Kebencian saya terhadap munafik yang satu ini sebelas-dua belas dengan sepatu –sang incumbent-. Setiap kali sandal jepit menjabat, kulit di sela jempol dan telunjuk kaki saya selalu jadi korban. Lecet. Sialnya, untuk menghadapi munafik yang ini, butuh kaos kaki lain yang juga tak kalah brengseknya, yaitu jenis yang meng-cover jari2, atau minimal memisahkan jempol dan empat jari lain. Saya bilang brengsek, karena meskipun bisa melindungi kaki dari bahaya laten sandal jepit, untuk mendapatkannya butuh perjuangan ekstra, karena lebih sulit dicari dan lebih mahal. Belum lagi, jika saya bersandal jepit ria senyampang menggunakan kaos kaki jenis ini, tidak terhitung banyaknya orang yang meledek karena gaya saya yang jadi serupa wanita.

Pejabat alas kaki favorit saya adalah –sebagaimana kebanyakan mahasiswa kedokteran- sandal model Crocs. Tentu saja yang tanpa logo dan tulisan crocs, yang dapat dibeli dengan harga miring, dan satu ukuran lebih besar daripada ukuran alas kaki saya yang biasanya. Tanpa banyak berjanji seperti sepatu, atau pura2 menawarkan solusi seperti sandal jepit, beliau mampu melakukan tugas jabatannya dengan nyaris sempurna. Punggung kaki cukup terlindung dari berbagai ancaman, tumit bisa bergerak leluasa tanpa khawatir lecet, ventilasi kaki cukup terjamin, dan telapak kaki pun bisa menapak dengan nyaman karena ketebalannya yang pas. Lagipula tidak dibutuhkan kaos kaki sebagai tambahan, karena beliau sangat jauh dari kemunafikan ala sepatu dan sandal jepit.

Saya tidak tahu mengapa tiba2 saya menulis tentang sepatu, sandal jepit, dan crocs bajakan. Setelah melihat banyaknya alas kaki yang bertebaran tidak beraturan di pelataran masjid pasca solat jumat, dan masih dalam nuansa gempa Sumatra, tiba2 energi dan pikiran negatif saya memerintahkan para jari untuk menulis.

Saya teringat suatu kali salah seorang Profesor saya pernah bercerita, bahwa di setiap kali terjadi bencana alam, selalu ada pihak yang bertingkah ala sepatu, bahkan sandal jepit. Pernah suatu perusahaan susu milik asing memberikan berton-ton sumbangan susu formula untuk korban gempa, yang ternyata kadaluarsa. Perusahaan raksasa asing lain, yang bergerak dalam industri farmasi, menyumbang ribuan kardus obat-obatan, yang setelah diteliti ternyata sudah kadung expired. Media terlanjur mengekspos bahwa perusahan X, Y, dan Z telah menunjukkan kepedulian mereka. Eh, ternyata kepedulian tersebut tidak lebih dari sekedar menciptakan incinerator gratis, atau minimal memiliki biaya operasional lebih murah. Ongkos pengolahan limbah kimia yang memang tidak murah, ternyata bisa disiasati menjadi gratis di negara ini. Tunggu saja ada bencana, lalu sumbangkan.

Suer, saya tidak bermaksud menuding atau menghujat siapapun. Tujuan saya murni cuma pingin berbagi, kok. Justru jangan sampai karena tulisan2 miring seperti ulah saya ini, niat kita untuk membantu jadi surut karena takut dicap sebagai sepatu, eh.., munafik maksud saya. Khawatir dibilang cari muka lah, aji mumpung lah, dan cap-cap negatif yang lain. Semua ada maqomnya masing2, dan wajib untuk membantu sesuai kemampuan dan kondisi masing2.
Kebetulan, saat ini saya belum bisa berbuat banyak, seperti sahabat2 saya yang lain. Tapi percayalah, getaran gempa yang dirasakan saudara2 kita di Padang, sangat terasa bahkan sampai ke Malang, Jawa Timur. Getaran itu sangat terasa di sini, di hati saya.
Wallahua’lam.

Malang, ba'da Jumatan.

The Doctor: Bukan Tentang Valentino Rossi


Jika Anda menyukai buku-buku karangan Atul Gawande seperti Better dan Komplikasi, saya yakin buku yang satu ini haram untuk Anda lewatkan. Dengan cara penulisan dan isi yang sama menariknya dengan karangan Atul, buku berjudul "The Doctor: Catatan Hati Seorang Dokter" ini sangat layak untuk dijadikan bacaan wajib bagi para dokter dan siapapun yang tertarik dengan dunia kedokteran. Seakan melengkapi sudut pandang Atul yang merupakan seorang dokter bedah, penulisnya, dr.Triharnoto, menulis buku ini dari kacamata beliau sebagai seorang dokter ahli penyakit dalam.


Ada pepatah yang mengatakan bahwa Buku adalah Jendela Dunia. Melalui buku, kita dapat mengintip sebagian rupa dari realita dunia, mendapatkan gambaran besarnya, dan -mungkin- mengestimasi sisi sisanya yang tidak dapat kita lihat dari satu jendela. Nah, dalam rangka menjalankan perannya sebagai jendela dunia, buku The Doctor ini bagaikan jendela raksasa berukuran giga, sehingga memudahkan kita melihat dengan jelas dan jernih setiap hal yang terjadi di luar sana. Semua orang bisa melihat melalui jendela ini. Entah dia adalah seorang dokter yang seringkali justru jadi objek pengamatan orang di balik jendela, atau orang awam yang memang hanya sesekali menyempatkan diri untuk melihat pemandangan dunia di luar sana, dunia medis dan kedokteran.


Hampir semua angle dari pemandangan dunia kedokteran terekam dengan baik di buku ini. Tinggal pilih saja, mau dilihat semuanya, atau hanya satu sisi yang menarik minat masing-masing Anda. Jika Anda adalah siswa SMU, atau mahasiswa kedokteran tingkat awal, mungkin setengah bagian akhir di buku ini adalah yang paling menarik buat Anda. Karena pada bagian tersebut penulis lebih banyak bercerita tentang kasus-kasus yang pernah beliau temui, yang menggambarkan betapa serunya kehidupan seorang dokter. Tentu ditambah dengan kontemplasi ringan tapi mendalam di setiap babnya. Jika Anda adalah seorang dokter yang cukup senior, atau masyarakat awam, mungkin setengah bagian awal lah yang menarik minat Anda. Dengan content yang lebih ke arah filosofis, wacana makro, dan tidak banyak mengumbar istilah medis, bagian ini akan sangat mengasyikkan untuk Anda nikmati.


Sebenarnya, buku ini bukanlah buku pertama di Indonesia yang membahas dunia kedokteran. Sebelum buku ini terbit, saya pernah membaca buku2 semacam Mengobati dengan Hati, Dokter juga Manusia, Bagaimana Dokter Berpikir dan Bekerja, Ketika Nurani Dokter Bicara, Catatan Harian Calon Dokter, dan sebagainya. Tapi, jujur saja, buku ini yang terbaik sampai saat ini -menurut saya-. Cara dr.Triharnoto bertutur dalam buku ini sangat menyenangkan dan tulisan beliau mengalir dengan sangat mulus. Perbandingan wacana mikro-makro dan aplikatif-filosofis yang pas, membuat buku ini memiliki nilai tambah dibanding buku-buku serupa yang pernah saya baca. Garapan temanya yang luas -seperti yang sudah saya katakan sebelumnya- juga membuat buku ini unggul diantara buku2 lain. Di dalamnya, Anda akan menemukan hal2 menarik mulai tentang betapa runyamnya industri kesehatan kita, betapa sulitnya seorang dokter membuat puas seluruh pasien, hingga peningnya kepala para dokter yang terpaksa hidup dengan disekat kapitalisme yang semakin mendunia.


Di luar itu semua, kesempurnaan tentu saja tidak menjadi hak dari buku ini, tidak pula buku2 yang lain. Buat saya pribadi, kelemahan buku ini lebih ke hal2 teknis, kemasan, bukan ke isi. Yah, selera pribadi memang, tapi cover yang seharusnya bisa lebih ciamik, subjudul yang agak klise, font yang kurang cantik, dan layout yang terlalu polos, saya yakin menjadi faktor pertimbangan tersendiri bagi para calon pembeli. Saya pikir, penerbit bisa memoles lagi hal2 ini di edisi revisinya, lengkap dengan tambahan tulisan best seller di sudut kanan atas.

Saya hadiahkan jempol saya untuk dr.Toto, kanan dan kiri^^

Dilema Poligami

Tadinya
Saya berhasrat untuk segera
Karna katanya
Itu sunnah rasul saya
Kebiasaan para sahabat dan pengikutnya


Tiba-tiba semua asa hilang entah kemana
Tanpa dinyana
Baiklah, saya batalkan saja itu rencana
Tapi tak apa
Sungguh tidak apa-apa


Toh, sebenarnya saya sudah menjalankannya
meskipun bukan dengan manusia
Belum dengan makhluknya yang paling sempurna
Sudah ada tiga yang meminang saya
Yang pertama bernama agama
Yang kedua biasa dipanggil negara
Dan ketiga adalah buku-buku saya
Kalaupun ada dia
Dia hanya bakal jadi nomor empat kedudukannya
"Jadi sepertinya tidak perlu segera," pikir saya


Dengan pasangan yang berjumlah tiga saja
Saya belum bisa adil, kata mereka
Padahal hampir tiap hari saya layani ketiganya
Sesering mungkin kami bersenggama
Saya puas, lemas, tapi tidak dengan mereka
"Sujudmu terlalu prematur!" kata Agama
"Gerakanmu minimal, kurang liar!" ujar Negara
"Stamina matamu payah, terlalu cepat lelah!" Buku-buku turut bersuara
"Jangan dulu coba-coba cari si nomor empat!" ketiganya kompak bersabda


Yasudah, saya menurut saja
Saya tidak akan mencari, tapi jangan salahkan si nomor empat kalau dia mencari saya
Sementara, cukuplah cinta saya dibagi tiga


Lalu, sayup-sayup saya mendengar suara
"Kalau si nomor empat bisa membuat cintanya jadi berlipat, sehingga bisa dibagi rata berempat, baru kita ijinkan dia"
Ternyata itu suara mereka bertiga
Sedang menyidangkan perkara suaminya


Agustus'09
Mengenang Alm.WS.Rendra

Jumat, 31 Juli 2009

Guruku Sayang, Dokterku Malang


Paling seimbang adalah alasan utama mengapa akhirnya saya memilih untuk menjadi dokter. Saya ingat, hingga detik-detik terakhir menjelang batas waktu pengumpulan formulir pendaftaran SPMB, pilihan menjadi dokter sama sekali tidak pernah terlintas dalam benak saya. Namun entah kenapa dalam pertapaan singkat yang saya lakukan, tiba-tiba, ting! Kata dokter tiba-tiba muncul, lengkap dengan bohlam yang menyala terang di sebelah kepala seperti di film-film kartun. Saya telpon orang rumah, lalu di-acc, dan saya pilih pendidikan dokter UI sebagai pilihan pertama saya.

Ketika saya kecil, jika orang bertanya tentang cita-cita, maka saya selalu menjawab dengan keyakinan penuh: Profesor! Dulu, saya tidak tahu bahwa profesor itu guru besar, maha dosen, puncak intelektualitas tertinggi yang bisa didefinisikan manusia. Yang saya maksud profesor pada masa itu adalah scientist, ilmuwan, penemu, bukan guru besar. Saya selalu marah kalau ada yang bertanya,"Kenapa nggak jadi dokter aja?" "Nggak mauk, pokoknya mau jadi profesor!" ahahahaha. Dasar bocah sableng.

Seiring dengan makin bertambahnya usia dan dosis kedewasaan yang saya punya, bayangan masa depan untuk menjadi guru makin sering berlari-lari dalam pikiran saya. Guru itu pahalanya banyak. Diantara amal yang tidak akan terputus dan menjanjikan pahala yang terus mengalir adalah ilmu yang bermanfaat. Dan itu yang diberikan oleh seorang guru kepada muridnya. Saya sangat menikmati kegiatan mengajar, terutama jika melihat orang lain mengangguk-angguk paham atas penjelasan saya. Nah, ketika sampai di tahap orang yang saya ajari itu berkata,"Ooo.. .. gitu ya. Sip2. ngerti gue," Saya bisa sampai orgasme!

Tapi kalau dipikir2, kok ya kalau saya jadi guru, sepertinya kehidupan saya secara finansial kurang sejahtera, kurang secure. Apa ya, profesi yang di satu sisi orientasi utamanya memberi dan menyuplai sebanyak-banyaknya manfaat untuk orang lain, tapi di sisi lain menjamin kesejahteraan hidup untuk saya dan keluarga? Saya tidak kepingin jadi kaya, tapi cukup di level financially secure. Sepertinya, dokter adalah jawaban yang paling tepat. Jadi dokter itu belum tentu kaya, tapi insyaAllah tidak akan miskin, begitu kata salah satu senior saya di Fakultas Kedokteran.

Saya tidak pernah suka mengejar uang. Mungkin ini hasil didikan ayah saya yang selalu menekankan kesederhanaan dalam semua hal. Saya tidak suka jadi orang kaya, tapi saya tahu bahwa saya butuh untuk jadi orang kaya. Shodaqoh jariyah adalah pohon pahala, ladang amal yang merupakan previlege bagi orang-orang kaya. Agak sulit bagi orang yang tak punya duit untuk turut menyumbang pembangunan masjid, membangun sekolah, patungan mengaspal jalan umum, memberi tambahan modal usaha untuk industri kecil, dan berbagai peluang amal lain yang jelas-jelas membutuhkan uang.

Mohon maaf, saya tidak menemukan profesi lain di luar dokter dan guru yang visi misinya adalah memberi dan melayani. Maka dari itu, tidak heran jika masyarakat akan sangat marah ketika kesehatan dan pendidikan dikomersilkan, dibuat hitung2an ala pedagang atau pengusaha. Karena dalam kamus kebanyakan orang, dokter dan guru adalah profesi yang seharusnya tidak berpamrih, dan haram dibuat neraca laba-ruginya. Apesnya, ketika kesehatan serta pendidikan dijadikan bisnis, dokter dan guru adalah profesi yang paling menderita, karena menerima komplain paling banyak dari para customernya. Ketika biaya pendidikan mahal, pengelola institusi pendidikan dihujat. Ketika biaya kesehatan mahal, dokter dicaci maki, dicap komersil dan tidak ikhlas. Padahal, berapa sih gaji guru, dosen, dan pendapatan dokter?

Dalam mata rantai bisnis kesehatan dan pendidikan, dokter dan guru itu ada di rantai makanan terbawah, mirip tikus atau kodok. Predatornya adalah penerbit, kontraktor, dan pabrik farmasi. Ketika biaya pendidikan mahal, yang harus repot memikirkan pelanggan adalah dokter dan guru. Padahal kontributor biaya terbesar adalah masalah infrastruktur, bukan jasa, yang perannya dilakoni penerbit, kontraktor, pabrik farmasi dan teman2nya. Biaya beli obat jelas jauh lebih mahal daripada jasa dokter. Ongkos buku jauh lebih mahal daripada uang SPP. Dan uang pangkal sekolah yang biasanya untuk perbaikan gedung hampir tidak pernah tidak memberatkan siswa dan menjebol dompet orang tua.

Masyarakat kita jarang sekali menyoroti kenapa para penerbit tidak kunjung memberikan harga spesial untuk buku-buku sekolah. Pasien juga jarang mempertanyakan kenapa pabrik obat tidak punya niat untuk memproduksi obat murah secara istiqomah. Dan orang juga seringkali luput untuk menuntut para pemborong dan arsitek untuk tidak menggunakan hitung-hitungan konvensional ketika diminta membangun fasilitas pendidikan atau kesehatan. Kompensasinya, sebagai garda terdepan, dokter dan guru lah yang harus berperilaku sebagai customer service yang baik, menjelaskan, menentramkan, serta membantu mengelus dada masyarakat.

Kata salah seorang guru saya, masalahnya berpangkal di political will, perkara kemauan. Kalau will-nya sudah ada, how-nya akan mengikuti, dan way-nya akan langsung tampak jelas. Karena itu pemerintah punya peran yang sangat besar di sini.

Dalam primbon saya, penanganan masalah yang sudah kadung bersifat sistemik itu butuh solusi yang juga sistemik. Harus di bom dulu, baru masalah yang tersisa ditembaki satu per satu. Masing-masing punya peran sendiri, sesuai maqom dan derajatnya, baik yang ngebom, atau yang menembak. Pemerintah yang memang punya bom, harus berani ngebom. Dan para dokter dan guru yang punya senapan, silakan menembak. Kalau pemerintah ogah ngebom, saya mau jadi eksekutornya, jadi pelaku pemboman. Tapi sebelum sampai di tahap itu, saya masih harus banyak belajar untuk jadi penembak jitu. Banyak membaca, meminta pemeriksaan penunjang diagnostik yang sesuai keperluan, membuat resep yang rasional, dan tahu kapan harus segera merujuk.
Wallahua'lam.

Dahulukan Warung!


Hari itu saya menerima sekitar 40sekian pasien. Jika saya bekerja dalam waktu 7 jam, atau 420 menit, artinya setiap pasien rata-rata saya kerjakan selama 10 menit. Cukupkah? Menurut saya tidak. Secara saya nggak bisa lagi ngobrol dan bercanda dengan pasien seperti yang selalu saya lakukan ketika koAs, dan pemeriksaan yang saya lakukan tidak seteliti ketika masih sekolah. Tapi saat istirahat siang, senior saya berkata,"Ya....wajar kok. Saya dulu juga waktu baru awal2 masi kayak kamu, agak lama periksanya." Heh??? 10 menit ternyata udah agak lama toh? Padahal kalo lagi ujian OSCE ndak berasa tuh, cuma dapet 2 station. Hehe. (Tapi kalo lagi baksos sih, 2 menit juga cukup, wkwkwkwk)

Ternyata dokter umum di kota besar tugas utamanya memang screening, memisahkan pasien mana yang betul2 sakit patologis, dan mana yang sakit fisiologis. Karena sebagian besar pasien memang cuma sakit fisiologis, dengan penyakit2 yang swasirna, yang bakalan sembuh sendiri meskipun ga dikasi obat. Terbukti dari catatan daftar pasien di klinik tersebut, ada dokter yang bisa terima sampai 100 pasien sehari. Malahan guru saya, seorang konsultan anak, gosipnya terima pasien sampai 200an orang sehari. Dugaan saya, begitu orang tuanya bilang,"Batuk dok," sang dokter udh langsung menulis paket obat batuk pilek yang sudah biasa diresepkan.

Edukasi skala massif sepertinya adalah pekerjaan rumah yang harus segera dikerjakan oleh semua tenaga medis di Indonesia. Kebanyakan pasien-pasien Indonesia adalah pasien-pasien "bodoh", yang memiliki pengetahuan medis yang saaaaaangat minimal. Sebagian pasien banyak yang kelewat kuatir. Batuk baru sehari, langsung ke dokter. Demam baru tadi pagi, ke dokter. Tapi, di sisi lain banyak juga yang terlalu cuek. Tumor udah segede gaban, baru datang berobat. Ulkus kornea sampai udah ga bisa ngeliat, baru kalang kabut.

Bukan maksud saya membodoh-bodohkan pasien, dan bukan tujuan saya menyalahkan masyarakat awam. Tidak terdiseminasinya informasi itulah yang salah, yang sejatinya harus dikoreksi. Dan ini tugasnya yang punya informasi, siapa lagi kalau bukan dokter dan tenaga medis lain.
Dokter harus rajin ngomong, harus getol ngasi penyuluhan. Dokter juga kudu bisa nulis, syukur2 punya blog/website, atau bikin majalah. Nggak sulit sepertinya untuk membagi2kan leaflet seminggu sekali ke tetangga2 sekitar tempat praktek kita agar mereka lebih teredukasi. Mengerti kapan mereka harus ke dokter, dan kapan mereka cukup berobat sendiri, serta tindakan awal apa yang harus dilakukan. Dengan begitu mudah2an jumlah pasien dalam sehari nggak akan terlalu banyak, sehingga dokter punya cukup waktu untuk memeriksa dan mengobati dengan optimal. Pasien juga akan senang karena mendapatkan pelayanan yang holistik dan nggak perlu repot mengantri terlalu lama.

Tercatat hari itu hanya ada beberapa saja pasien saya yang memang layak berobat, yang datang bukan dengan keluhan konvensional. TB anak, dislokasi achilles dextra pasca KLL yang cuma saya kasi analgetik-wound toilet-fiksasi-lalu rujuk (hehehehe:p), dispepsia berat yang harus saya suntik antiemetik, ulkus DM yang mesti di wound toilet, tumor di daerah nasal (meningokel?ensefalokel?ap
a si tu?), varicella, skabies (ga sembuh2 meski udh diobatin poli kulit RSCM), dan BKB yang butuh inhalasi. Sisanya? Batuk-pilek-pusing-mual-demam-pegel2-mencret, yang baru 1 hari. Haduh, ibu, beli obat warung dulu aja!

Selasa, 21 Juli 2009

Mendadak Six Pack

Ada perbedaan yang sangat mencolok antara atlit dan penggemar fitness center. Sekilas, morfologi dan bentuk keduanya secara fisikal memang mirip. Ciri fisik yang dominan, selain perut bercorak bujur sangkar, yang biasanya berjumlah 2 sampai 6, seluruh otot-otot mereka seakan berlomba2 menonjolkan diri masing-masing. Nggak ada yang mau kalah, mulai dari lengan, punggung, paha, sampe ke betis, semuanya hipertrofi, semuanya kelihatan kekar. Bahkan kadang2 ada yang jarinya jadi jempol semua, karna saking seringnya dilatih.

Dengan penampakan yang sebelas-duabelas ini, perbedaan utama kedua spesies ini adalah di tujuannya, orientasinya. Buat orang yang doyan nge-gym, para fans fitness center, menggapai bentuk fisik idaman adalah tujuan, target, dan hasil akhir yang ingin dicapai. Jadi, jangan harap ketika tekad bulat sudah dicanangkan untuk mendesain badan yang sterek mirip Ade Rai, si gym-er ini bakal berhenti di tengah jalan sebelum bodynya berhasil dibentuk. Karena, sekali lagi, buat mereka hal ini adalah ultimate goal. Padahal, kalo dicari padanan kata fitness di kamus bahasa Indonesia, kita akan temukan kata bugar. Makannya arti fitness center itu pusat kebugaran. Bugar itu sehat. Sehat itu jelas bukan cuma fisik. Kata WHO, sehat itu kondisi sejahtera mulai dari fisik, mental, sampe sosial. Jadi, di fitness center atau di gym, seharusnya orang nggak cuma terfokus membenahi kebugaran fisik, tapi juga mental dan sosial. Sebuah gym yang baik, seharusnya disetting agar penggunanya punya kesempatan berinteraksi sosial dengan nyaman, dan mengembangkan kesehatan mental dengan baik. Salah satu pendekatan untuk sehat secara mental adalah pendekatan spiritual. Berarti seharusnya di gym juga disediakan Musholla, gereja, pure, vihara, atau sinagog, lengkap dengan Al-quran, Bible, weda, dan kitab suci masing2. Mudah2an dengan begitu para pecinta fitness center ini bisa lebih fit, lahir dan batin.

Nah, buat seorang atlit, bentuk fisik yang kekar, padat, pejal, dan solid ini adalah cuma efek samping, sekedar bonus belaka. Kebetulan, karena saking seringnya mereka latihan dan olahraga, tanpa disengaja otot2 yang sering digunakan itu jadi hipertrofi. Perut mereka, yang diisi cukup kalori itu, mau tidak mau harus mengalami nasib yang sama, menjadi lebih ramping dan bercorak persegi. Bukan, bukan maksud mereka untuk membentuk badan. Tapi mereka tidak berdaya dan cuma bisa pasrah menerima karunia akibat perbuatan mereka yang terlampau sering berolahraga.

Akhir2 ini, makin banyak iklan yang mengutip kalimat legendaris jendral Naga Bonar,”Apa Kata Dunia?”
Pengguna nomor urut satu dari kalimat ini kalo tidak salah adalah orang2 Dirjen Pajak, disusul orang2 KPK, departemen Kehakiman, dll. “Hare gini masi KKN? Apa kata Dunia?” “Hare gene ga bayar pajak? Apa Kata Dunia?” dan seterusnya.
Buat saya, kalimat ini agak toksik, beracun, dan sedikit bahaya. Saya nggak tau persis rentang dosis amannya berapa, dan pada dosis berapa dia bisa jadi beracun. Tapi, pokoknya toksik, titik. Secara content sebenernya gak masalah, tapi contextnya, kemasannya, membuat kita harus siaga. Peduli banget sih sama dunia?

Di antara orang2 yang saya kenal, nggak sedikit juga yang kelewat peduli dengan dunia. Fokus mereka adalah orang lain, mulai dari teman, sahabat, orang tua, dosen, pacar, istri, suami, dll. Masa depan mereka ada di orang lain, letak kebahagiaan mereka ada di orang lain, benar-salah mereka tergantung orang lain. Kalo orang lain senang, berarti dia benar. Kalo orang lain kecewa, berarti dia salah. Mereka bukan terfokus pada prinsip, atau pada value tertentu yang diyakini benar.
Misal, awalnya dia yakin bahwa kejujuran adalah value yang benar. Tapi ketika dihadapkan pada kondisi teman2 di sekitarnya nggak memegang nilai yang sama, maka kejujuran tadi lepas, lumer, dan nggak lagi digenggam. Awalnya sih, kita yakin mau ngerjain ujian sendiri. Tapi, kok, soalnya susah ya, yang lain pada nyontek, yaudah, gimana lagi, terpaksa lah ogut ikut nyontek. Awalnya sih, udah deklarasi: korupsi haram!! Tapi, kok, temen2 pada korupsi berjamaah. Ikutan ah....

Orientasi, niat, fokus, akan menentukan nilai dari suatu tindakan. Tinggal kita yang memilih, apakah orientasi kita adalah value yang kita yakini benar, atau kepuasan orang lain atas apa yang kita lakukan. Tapi yang jelas, setau saya, agak sulit untuk memuaskan semua orang tanpa ada kecuali. Tindakan apapun yang kita lakukan, akan selalu ada orang lain yang nggak puas, kecewa, merajuk, ngambek, nggak setuju, bahkan sampe bikin demonstrasi. Ketika ada dua orang yang sama2 punya motto: “saya pantang korupsi”, tapi yang satu karna memang punya prinsip yang keukeuh pada kejujuran, dan yang lain punya mentalitas “Apa Kata Dunia?”, jelas keduanya punya kualitas yang berbeda.

Jangan sampai kita cuma sibuk memoles kulit yang sebatas permukaan. Hal seperti itu terlalu semenjana, medioker, dan terlalu dangkal. Kalau misalkan suatu saat tiba2 dunia memuji kita, yah, alhamdulillah, apa boleh buat, itu efek samping dari perbuatan yang bersumber dari value yang kita yakini benar. Tapi, kalo2 di kesempatan lain dunia justru mengutuk, menyumpah-serapah, dan banyak orang yang kecewa karena tindakan kita, gak masalah, yang penting kita sudah melakukan sesuatu yang seharusnya.

Seperti halnya 6 buah kotak di perut para atlit yang terbentuk secara tidak sengaja, pujian dari dunia atas perbuatan kita sebaiknya juga terjadi dengan cara yang sama. Tiba-tiba, dan bukan disengaja.
Orisinil, bukan artifisial. Asli, bukan bajakan.
Karena, daripada pusing2 memikirkan “Apa Kata Dunia?” lebih baik kita memikirkan pertanyaan,”Apa Kata Akhirat?”. Itu juga kalo kita percaya adanya akhirat, hehehe.
Wallahua’lam.

Membesarkan Valentine

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, raya artinya besar. Secara otomatis, kata yang disandingkan dengan kata raya, entah itu diletakkan di depan atau di belakang, akan ikut menjadi besar. Jalan raya berarti jalan yang besar, hari raya itu hari yang besar, panen raya artinya panen yang besar, dan kebun raya adalah kebun yang berukuran besar. Anehnya, orang yang kaya raya tidak selalu badannya besar. Meskipun kebanyakan memang begitu.

Sementara itu, imbuhan me-kan memiliki fungsi memberi arti menjadi pada kata yang diapitnya, terutama bila kata itu adalah kata benda atau kata sifat. Memadukan berarti menjadikan padu, menjelekkan artinya menjadikan jelek, melancarkan adalah menjadikan lancar, dan tentu saja, menjadikan sendiri berarti menjadikan jadi (lho??).
Kata raya yang diberi imbuhan me-kan, akan menghasilkan bunyi merayakan. Artinya, sudah barang tentu adalah menjadikan raya, menjadikan besar.

Kata orang, hari ini hari valentine. Orang yang merayakan hari valentine, berarti menjadikan hari ini sebagai hari raya, hari yang besar, hari yang spesial, yang lain dari biasanya. Cara orang menjadikan hari valentine sebagai hari raya pasti berupa-rupa, tergantung orang itu ingin hari valentine yang sebesar apa. Mungkin cuma dengan bertanya,”Eh, lu valentinan gak?” sambil minum kopi di warteg pinggir kali. Bisa juga beli bunga atau ngeborong coklat. Atau ada juga yang bikin makan malam dengan menu cahaya lilin (candle light dinner??). Semuanya sama-sama merayakan, tergantung akan seraya apa valentine itu dalam desain pikiran masing-masing.

Menjadikan suatu hari sebagai hari raya agak sulit, karena sampai sekarang belum ada parameter yang jelas kapan suatu hari itu disebut lebih raya daripada hari biasa. Tidak seperti pembesaran limpa yang standarnya adalah titik schuffner, pembesaran hati yang patokannya arcus costae, atau lingkar kepala anak yang bandingannya adalah lingkar dada kalau anak itu sudah berumur lebih dari dua tahun.
Kalau misalkan hanya dengan memperlakukan suatu hari sedikit saja lebih spesial dari hari biasa maka kita dikatakan merayakan hari tersebut, maka perkaranya bisa runyam. Pasalnya, MUI dan ulama bisa mendapat murka Allah Swt, karena tidak melakukan apa yang mereka katakan.

Setiap tahun, sampai tahun ini, MUI dan seluruh ulama berbondong-bondong merilis anjuran, malah ada yang berupa fatwa, untuk tidak merayakan valentine. Padahal, tidak setiap hari mereka merilis fatwa model begini. Artinya, dengan melarang umat merayakan valentine secara khusus setiap mendekati tanggal 14 Februari, para ulama sebenarnya telah merayakan valentine, karena telah menjadikan valentine ini perkara besar, perkara yang spesial. Kalau para ulama ingin memberikan teladan dan mengajak orang untuk tidak merayakan valentine, cara yang termudah sejatinya adalah tidak berkata apa-apa. Cuek bebek saja, tak acuhkan saja hari itu. Atau, yang dirayakan justru hari Sabtunya. Karena dengan begitu, Sabtu akan lebih raya dari valentine, dan valentine akan lebih kecil dari Sabtu, tidak jadi raya. Toh, buat saya pribadi, Sabtu juga lebih penting dari valentine. Karena tiap Sabtu saya bisa tidur seharian, tapi tidak begitu halnya dengan tiap valentine.

Nah, permasalahannya sekarang, yang repot juga adalah saya. Karena saya juga kepingin menganjurkan orang untuk tidak merayakan valentine. Gawatnya, kalau saya nulis begitu, otomatis tiap Sabtu saya harus nulis kayak begini, biar orang tidak menyangka saya nulis begini pas hari valentine saja. Susah itu.

Dokter Spesialis Rujuk

Suatu waktu di depan tempat praktek kita sebagai dokter umum terjadi kecelakaan. Sebuah motor yang sedang melaju dengan kecepatan 60 km/jam tiba-tiba menabrak pohon, tergelincir karena jalanan sedang licin. Pengendaranya jatuh, pakaiannya robek di sana-sini, tapi beruntung helm si pengendara tidak terlepas. Apa yang kira2 akan kita lakukan?
Periksa Airway, bebas. Breathing, spontan, 20x/menit. Circullation, Nadi 90x/menit, reguler, isi cukup. Tanda vital stabil, status generalis normal dan tidak ada kelainan, selain terlihat vulnus laceratum di lengan bawah kanan dan beberapa ekskoriasi.

Di ruangan praktek kita, Kassa ada, Betadine punya, H2O2 masih sisa banyak, NaCl masih 5 kolf, jarum tersedia, benang lebih dari cukup, ATS&TT malah masih utuh ampul dan vialnya. Apakah kita suntik ATS&TT? Apa kita lakukan Wound Toilet? Apa kita jahit laserasinya? Ternyata tidak.
Dari sekian banyak amunisi yang kita punya, yang kita lakukan hanya mengambil surat rujukan, dan menyarankan pasien untuk ke rumah sakit terdekat. Kalo beruntung, si pasien nanti akan ditangani dokter jaga IGD yang terampil. Kalo apes, dia ketemu koAss, hehehe.

Ilustrasi tadi adalah potret dokter umum yang kita punya saat ini di Negara ini. Nyaris 64 tahun setelah merdeka, bukannya membaik, kualitas dokter umum kita justru involutif, bergerak mundur ke arah belakang. Pengetahuannya minimal, ketrampilannya terbatas, nyalinya pun tinggal secuil. Dokter umum kita hanya terbiasa mengobati batuk pilek, atau paling banter typhoid. Sisanya? Rujuk!

Wajar jika masyarakat kita sekarang memandang dokter umum sebagai dokter spesialis rujuk. Kalo bukan batuk pilek, jangan ke dokter umum. Buang2 duit aja, karna ujung2nya cuma bakal dapet surat rujukan untuk ke spesialis. Ironis kalau kita menjumpai kenyataan bahwa tidak sedikit pasien yang dirujuk oleh dokter umum, sesampainya di rumah sakit malah ditangani koAss.

Realitas ini jadi bukti bahwa dokter umum kita sekarang sedang merendahkan dirinya sendiri, sambil pura2 amnesia bahwa dia dulu pernah belajar seluruh kompetensi yang diperlukan untuk menjadi dokter yang baik pada pelayanan kesehatan strata primer. Lebih parah lagi, dengan attitudenya yang seperti itu, dokter umum jaman sekarang punya hobi menggerutu bahwa kesejahteraan dokter sekarang tidak ada yang memperhatikan. Pasiennya juga semakin sedikit. Implikasinya, status dokter umum sekarang ini cuma jadi batu loncatan, untuk nantinya melanjutkan spesialisasi, dengan tujuan utama kondisi ekonomi dan finansial yang lebih baik, yang lebih menjamin kesejahteraan diri dan kedudukannya di masyarakat.

Jadi, jangan salahkan masyarakat kalau mereka langsung ke dokter spesialis ketika anaknya demam, batuk pilek, sakit kepala, atau sering pegel2. Karena ketika ke dokter umum, mereka cuma pulang dengan membawa surat rujukan. Juga jangan salahkan temen ngobrol Anda yang baru Anda kenal di mikrolet, ketika mereka bertanya,”Oohh.. udah mau lulus ya? abis ini mau ngambil spesialis apa?”. Karena dalam kamus mereka, dokter umum hanya bisa mengedukasi, bukan memberi terapi.
Wallahua’lam.

Sabtu, 24 Januari 2009

Rekomendasi: Perempuan Berkalung Sorban

Hak-hak wanita dalam islam, mungkin itu isu sentral yang diperdebatkan dalam film yang baru2 ini saya tonton, Perempuan Berkalung Sorban. Diawali dari ketidaknyaman dan pemberontakan Annisa kecil terhadap ketidaksetaraan hak wanita dan laki-laki dalam islam yang dia rasakan, berbagai konflik dalam film ini mulai bergulir. Mulai dari apakah wanita boleh naik kuda, menjadi pemimpin, meraih pendidikan hingga level tertinggi, membuka wawasan terhadap dunia lain di luar dapur dan kasur, dst. Awalnya, secara sepintas kebebasan dan kesetaraan penuh antara laki-laki dan perempuan menjadi solusi yang ditonjolkan oleh sang sutradara. Namun, setelah tokoh Annisa bertemu dengan sahabat masa kecilnya, Aisyah, barulah kita disadarkan, bahwa pilihan apapun selalu mengandung risiko. Dan pilihan untuk meraih kebebasan yang tak terbatas dan persamaan gender yang asal pukul rata, bukan merupakan tujuan yang tanpa cela atau keputusan yang bijak.


Semua permasalahan dalam film ini diceritakan dengan menarik, meskipun tidak semua terselesaikan, dan berujung pada satu konklusi tentang bagaimana sebenarnya islam memandang gender dan bagaimana sebenarnya islam sangat memuliakan kedudukan wanita.


Hal lain yang justru sangat menarik buat saya di film ini adalah keteladanan seorang suami yang ditunjukkan oleh Khudori. Mulai dari dia yang selalu mendukung kegiatan istrinya, memahami tribulasi psikodinamika yang mempengaruhi mindset sang istri, tetap tenang ketika istrinya marah, bergaul dengan ma'ruf, mendengar setiap keluh kesah, membuatkan teh, hingga menggoreng tempe untuk makan bersama.

Tokoh Khudori di film ini adalah edukasi yang luar biasa -menurut saya- untuk masyarakat kita yang belakangan kaum laki-lakinya semakin banyak yang tidak menjadi laki-laki. Yang dengan pengecut menggunakan kekuatan fisik untuk menutupi kelemahan kemampuannya dalam memberi nafkah, ketidakmumpunian intelektual dalam mendidik istri, kegagalan untuk berlaku adil, dan sejuta kelemahan2 lain. Laki-laki yang model begini, jangankan untuk disebut laki-laki, untuk dikatakan bahwa dia manusia pun sebenarnya masih debatable.

Saya pikir, film ini cukup layak untuk ditonton. Kalau AAC membuat lebih dari 3,5 juta tiket ludes terbeli oleh ibu2 pengajian, menurut saya film ini cukup layak untuk mendapatkan atensi dan jumlah penonton yang lebih banyak. Lagian akting mas Hanung sebagai tukang pos di film ini juga cukup memukau, haha.