Tampilkan postingan dengan label Linguistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Linguistik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Januari 2010

Meneladani Iman Para Sastrawan


Anda semua pastinya sudah mengetahui apa itu mu’jizat. Mu’jizat adalah suatu keluarbiasaan, baik itu berupa ucapan, perbuatan, peristiwa, atau benda yang dimaksudkan untuk membuktikan kebenaran seorang Rasul. Saya juga yakin jika Anda diminta untuk menyebutkan Mu’jizat salah satu Rasul saja, maka Anda justru akan ngelunjak, pamer bahwa Anda bisa menyebutkan tiga, empat, lima, atau lebih banyak lagi.


Sebut saja bagaimana kapal terbesar sepanjang zaman pernah didesain oleh Nabi Nuh, dan bagaimana cas-cis-cusnya Nabi Sulaiman berdialog dengan bangsa Jin dan binatang. Atau peristiwa kegagalan satu-satunya bagi api untuk menuntaskan tugasnya, yaitu ketika dia didelegasikan untuk menghanguskan tubuh Ibrahim. Atau betapa Nabi Musa telah mempesona para tukang sihir Fir’aun dengan tongkat ularnya, Nabi Isa yang sukses menghidupkan orang mati dan menyembuhkan orang buta, serta bagaimana Al Quran telah membuat seluruh sastrawan arab di era Muhammad berdecak kagum.


Allah telah mendesain semua mu’jizat sebagai alat bantu bagi setiap Rasul agar dipercayai kerasulannya serta diyakini ajarannya. Allah juga telah mendiversifikasi mu’jizat masing-masing rasul sesuai dengan kondisi kepada siapa dan dimana dia diutus. Allah telah menetapkan bahwa mu’jizat dari setiap rasul akan membuat kaum yang bersangkutan bertekuk lutut, karena mu’jizat tadi akan menjadikan kemampuan mereka yang tadinya mereka anggap hebat, menyusut dengan segera.


Kita ambil contoh Nabi Musa. Pada rezim Fir’aun, sihir adalah gaya hidup, dan menjadi salah satu penentu martabat seseorang. Seorang magician alumnus the Master yang cuma bisa main kartu, mungkin cuma akan jadi petani gabah di jaman Fir’aun karena saking ceteknya ilmu sulap yang dia kuasai. Sebab, pada kurun itu ilmu sihir mencapai level tertinggi yang bisa dicapai manusia, dan para penyihir sedang berada pada era keemasannya. Nah, pada kaum inilah Musa diutus, lengkap dengan mu’jizat tongkat ularnya, yang kita tahu kemudian berhasil mengkandaskan ular-ular mungil hasil kreasi para penyihir kerajaan Fir’aun. Dan siapakah yang pertama beriman kepada agama Musa? Para penyihir tadi. Mereka bersujud seketika itu juga. Karena mereka mengetahui bahwa sihir ala Musa bukan sihir yang konvensional.


Contoh kedua, Nabi Isa. Isa lahir pada jaman ketika ilmu kedokteran arab sedang maju-majunya, dan masyarakat kala itu sangat menghargai keberadaan para tabib (dokter). Masyarakat arab-palestina pada waktu itu dipenuhi dengan tabib-tabib kelas wahid jika dibandingkan dengan masyarakat lain di seluruh dunia. Ketika itu, seorang tabib memiliki kedudukan yang tinggi di mata masyarakat karena keilmuannya dan kemampuannya menyembuhkan orang sakit. Ketika Isa datang dengan kelihaiannya menyembuhkan kebutaan, bahkan menghidupkan orang mati, maka hebohlah seluruh Palestina. Dan Anda pasti juga sudah bisa menebak siapa yang paling pertama menyatakan keimanan pada Isa. Yak, betul. Para tabib tadi. Sama seperti para penyihir kerajaan Fir’aun, para tabib itu mengetahui betul bahwa skill medis Nabi Isa sudah melampaui limit kemampuan yang bisa dijangkau manusia.


Nah, sekarang kita lihat Muhammad, dengan mu’jizat terbesarnya –Al Quran-. Masyarakat arab pada masa diutusnya Muhammad adalah komunitas para pujangga yang memiliki stok sastrawan berkelas dengan jumlah bejibun. Siapa yang menguasai sastra, hafal berbagai syair, maka dialah yang paling mulia. Dan untuk masyarakat seperti inilah Al Quran diturunkan, untuk masyarakat yang menomorsatukan sastra, budaya baca dan ilmu. Kejadiannya pun sama persis seperti Musa dan Isa, dimana yang pertama kali menyatakan beriman kepada Muhammad adalah orang-orang yang mengerti sastra, dan orang-orang yang memiliki ilmu, seperti para pendeta. Karena merekalah yang paling memahami bahwa Al Quran dan isinya bukanlah sesuatu yang sembarangan.
Hingga saat inipun, di masa kita, budaya literasi, penguasaan ilmu dan informasi merupakan salah satu parameter paling penting yang menentukan posisi seseorang. Siapa yang menguasai ilmu, memiliki akses informasi, maka dialah yang memiliki peluang terbesar untuk maju. Maka dari itulah AlQuran masih tetap relevan sampai sekarang, dan seterusnya.


Jika kita merasa keislaman kita masih pada taraf abangan, setengah hati, masih trial, atau belum full version, mungkin kita perlu mengevaluasi minat kita terhadap sastra dan kecintaan kita pada ilmu dan budaya baca. Sebab, jangan-jangan karena minat kita yang kurang terhadap sastra dan penguasaan keilmuan kita yang minimal, maka kita tidak mengetahui betapa istimewanya Al Quran.


Bagi saya pribadi, contoh konkretnya tidak perlu jauh-jauh. Saat di bangku kuliah, orang yang kami panggil ustadz di angkatan kami adalah seorang sastrawan, seorang pujangga. Orang yang memiliki kepribadian paling terjaga, kafa’ah keislaman yang paling mumpuni, dan bacaan Quran yang paling tartil, adalah orang yang sejak kecil tergila-gila dengan sastra dan dunia kata-kata.
Di luar sana pun, tidak jarang kita temukan orang-orang yang akhirnya masuk islam dan mengakui keluarbiasaan Al Quran dengan seyakin-yakinnya adalah para Profesor dan Ilmuwan kawakan. Karena mereka mengetahui bahwa Al Quran sangat sejalan dengan pengetahuan, bahkan telah melampaui perkembangan ilmu hingga beberapa abad ke depan.


Nah, apakah saat ini Anda masih belum terkesima dengan Al Quran dan belum bisa menerima islam sepenuh hati? Jika iya, bisa jadi hal ini karena Anda kurang intim dengan sastra, kurang menginternalisasi budaya baca, atau bukan penggemar ilmu pengetahuan.
Wallahua’lam.

Selasa, 29 Desember 2009

Cumi-Cumi Cikeas


Saya tidak sedang dalam posisi membela Pak SBY, atau justru berada di sisi yang sama dengan Prof.DR.George Junus Aditjondro. Bukan masalah isi buku “Membongkar Gurita Cikeas” yang menggoda saya untuk menulis, karena saya sendiri belum membaca buku tersebut. Toh, kalaupun saya sudah baca, saya tetap tidak punya wewenang ilmiah untuk mengomentari isi buku tersebut. Jika pun ada orang yang memaksa saya untuk mengomentari isi buku itu, tanggapan saya mungkin sama levelnya dengan komentar ala mas2 tukang becak, abang2 tukang ojek, atau mbak2 yang menunggu pelanggan di warung kopi.

Adalah statement Aditjondro yang akhirnya menstimulasi saya untuk menulis. Statement ini mengusik ingatan ketidaksukaan saya tentang fenomena perdebatan melalui buku. Dalam berbagai wawancara, Aditjondro menyatakan bahwa dirinya adalah Doktor, SBY juga Doktor. Maka, jika ingin mengcounter buku yang telah dirilisnya, silakan SBY menulis buku, selesaikan dengan cara ilmiah. Bukan dengan mencekal bukunya, atau justru membawa perkara ini merembet ke meja hijau, meskipun dirinya siap untuk itu.

Jika masalahnya hanya soal haramnya mencekal peredaran buku, itu tidak saya tolak. Pun usulan untuk jangan menyeret perkara ini ke pengadilan, saya setuju 100%. Presiden harus memberikan contoh bagi masyarakat untuk menyelesaikan masalah secara gentlemen. Secara, masyarakat kita sekarang ini semakin cemen dan norak. Kena pukul dikit, ngadu ke pengadilan. Diledekin secuprit, ngadu ke polisi. Dokter salah ngomong satu kata, lapor ke pengacara, dijadikan isu malpraktik. Apakah berarti masyarakat kita semakin sadar hukum? Menurut saya tidak. Itu namanya cemen, pengecut. Karena nggak berani menghadapi sendiri, ngomong sendiri, dan menyelesaikan secara kekeluargaan, jadi mesti bawa2 pengacara. Siapa yang untung? Pengacara lah.

Nah, kalau bukan masalah pencekalan atau pengadilan, berarti yang tidak saya setujui di sini adalah masalah buku dibalas buku. Makin ke belakang, fenomena ini makin marak. Banyak pihak yang saling menghujat lewat buku, berantem bersenjatakan buku. Mulai dari NU lawan Muhamadiyah, Oposisi lawan Pemerintah, agama X lawan agama Y, gerakan IM lawan gerakan S, dst. Yang untung siapa? Penerbit, pebisnis buku. Yang rugi? Masyarakat. Satu, karena tidak mendapatkan konklusi dari perdebatan tersebut. Dua, karena jika ingin mengikuti perdebatan tadi hingga tuntas, masyarakat harus merogoh kantong lebih dalam untuk membeli buku2 yang dirilis oleh masing2 pihak. Pengarangnya? Cuma mendapat kepuasan semu karena bukunya banyak beredar, tapi tidak memberikan banyak manfaat untuk masyarakat. Mereka mengidap salah satu komplikasi narsisme yang paling serius.

Perdebatan melalui buku –menurut saya- akan selamanya kontraproduktif, karena hanya akan menjadi wahana masturbasi intelektual para pengarangnya. Mereka itu tidak mencari kebenaran, tapi pembenaran. Bohong besar jika tujuannya untuk mencerdaskan masyarakat atau membuka mata rakyat. Karena kebenarannya belum tentu teruji, belum tentu telah ditelaah dari sudut pandang yang berimbang. Jika memang ingin mengungkap kebenaran untuk masyarakat, silakan buat forum, duduk bersama, lakukan perdebatan, baru bukukan kesimpulannya, dan pasarkan seluas-luasnya.

Saya terpaksa membawa perkara ini ke persoalan global warming, ke wilayah environment sustainability. Karena seperti yang kita tahu, kertas itu mahal bung! Harus dihemat, direduksi penggunaannya jika kita tidak ingin berkontribusi pada memburuknya iklim dunia. Kalaupun terpaksa menggunakan kertas, jadikanlah dia kumpulan kertas yang bermanfaat, jadikan dia buku2 yang berkualitas. Bukan buku2 yang saling hujat, yang dibuat untuk menuntaskan syahwat penulisnya, padahal belum jelas kebermanfaatannya. Dan bukan pula buku2 plagiat yang tidak berkualitas, yang asal jadi dan hanya dibuat demi melampiaskan narsisme sang pengarang. Saya pernah sangat sebal dengan hal ini. Dulu, saya pernah melakukan kesalahan, tertipu karena membeli buku yang kurang bermutu, 2 kali, macam keledai. Pasalnya, buku yang bersangkutan dicetak ulang dengan judul yang berbeda, cover yang berbeda, oleh penerbit yang berbeda, dan semua buku di toko tersebut masih berplastik rapat. Ternyata, itu buku yang sama yang dulu pernah saya beli, dan jelek. Hhh....

Nah, bagi yang suka menulis, silakan menulis. Tapi tolong, jangan habiskan hutan Indonesia hanya untuk melampiaskan nafsu Anda yang ingin populer, famous, dikenal orang karena telah menulis buku ini dan itu. Bikinlah buku yang bagus, punya nilai tambah, bermanfaat, dan sesuai keahlian masing2. Bagi para penerbit, mbok ya lebih diseleksi karya2 yang masuk. Sekarang ini, untuk jadi penulis buku udah kelewat gampang. Tapi buku yang dirilis juga nggak sedikit yang kelewat nggak mutu. Tolong jangan cuma pertimbangangkan kepentingan bisnisnya, tapi juga manfaatnya buat orang banyak. Dan satu lagi, buat para pengacara, mbok ya jangan kayak orang kurang kerjaan, kurang duit. Semua dipanas2in untuk ke pengadilan. Toh, kami, para dokter juga sedang menggeser paradigma, dari sakit menjadi sehat. Kita sudah tidak lagi berharap banyak pasien, banyak orang sakit, tapi berusaha menjaga masyarakat tetap sehat. Kalian juga lah, silakan edukasi masyarakat, mana perkara yang bisa diselesaikan secara kekeluargaan, mana yang memang mesti menempuh prosedur hukum. Masalah rejeki mah, udah ada yang menjamin. Asal jangan bergantung pada manusia, tapi bergantunglah pada yang menciptakan manusia.
Wallahua’lam.

Selasa, 21 Juli 2009

Membesarkan Valentine

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, raya artinya besar. Secara otomatis, kata yang disandingkan dengan kata raya, entah itu diletakkan di depan atau di belakang, akan ikut menjadi besar. Jalan raya berarti jalan yang besar, hari raya itu hari yang besar, panen raya artinya panen yang besar, dan kebun raya adalah kebun yang berukuran besar. Anehnya, orang yang kaya raya tidak selalu badannya besar. Meskipun kebanyakan memang begitu.

Sementara itu, imbuhan me-kan memiliki fungsi memberi arti menjadi pada kata yang diapitnya, terutama bila kata itu adalah kata benda atau kata sifat. Memadukan berarti menjadikan padu, menjelekkan artinya menjadikan jelek, melancarkan adalah menjadikan lancar, dan tentu saja, menjadikan sendiri berarti menjadikan jadi (lho??).
Kata raya yang diberi imbuhan me-kan, akan menghasilkan bunyi merayakan. Artinya, sudah barang tentu adalah menjadikan raya, menjadikan besar.

Kata orang, hari ini hari valentine. Orang yang merayakan hari valentine, berarti menjadikan hari ini sebagai hari raya, hari yang besar, hari yang spesial, yang lain dari biasanya. Cara orang menjadikan hari valentine sebagai hari raya pasti berupa-rupa, tergantung orang itu ingin hari valentine yang sebesar apa. Mungkin cuma dengan bertanya,”Eh, lu valentinan gak?” sambil minum kopi di warteg pinggir kali. Bisa juga beli bunga atau ngeborong coklat. Atau ada juga yang bikin makan malam dengan menu cahaya lilin (candle light dinner??). Semuanya sama-sama merayakan, tergantung akan seraya apa valentine itu dalam desain pikiran masing-masing.

Menjadikan suatu hari sebagai hari raya agak sulit, karena sampai sekarang belum ada parameter yang jelas kapan suatu hari itu disebut lebih raya daripada hari biasa. Tidak seperti pembesaran limpa yang standarnya adalah titik schuffner, pembesaran hati yang patokannya arcus costae, atau lingkar kepala anak yang bandingannya adalah lingkar dada kalau anak itu sudah berumur lebih dari dua tahun.
Kalau misalkan hanya dengan memperlakukan suatu hari sedikit saja lebih spesial dari hari biasa maka kita dikatakan merayakan hari tersebut, maka perkaranya bisa runyam. Pasalnya, MUI dan ulama bisa mendapat murka Allah Swt, karena tidak melakukan apa yang mereka katakan.

Setiap tahun, sampai tahun ini, MUI dan seluruh ulama berbondong-bondong merilis anjuran, malah ada yang berupa fatwa, untuk tidak merayakan valentine. Padahal, tidak setiap hari mereka merilis fatwa model begini. Artinya, dengan melarang umat merayakan valentine secara khusus setiap mendekati tanggal 14 Februari, para ulama sebenarnya telah merayakan valentine, karena telah menjadikan valentine ini perkara besar, perkara yang spesial. Kalau para ulama ingin memberikan teladan dan mengajak orang untuk tidak merayakan valentine, cara yang termudah sejatinya adalah tidak berkata apa-apa. Cuek bebek saja, tak acuhkan saja hari itu. Atau, yang dirayakan justru hari Sabtunya. Karena dengan begitu, Sabtu akan lebih raya dari valentine, dan valentine akan lebih kecil dari Sabtu, tidak jadi raya. Toh, buat saya pribadi, Sabtu juga lebih penting dari valentine. Karena tiap Sabtu saya bisa tidur seharian, tapi tidak begitu halnya dengan tiap valentine.

Nah, permasalahannya sekarang, yang repot juga adalah saya. Karena saya juga kepingin menganjurkan orang untuk tidak merayakan valentine. Gawatnya, kalau saya nulis begitu, otomatis tiap Sabtu saya harus nulis kayak begini, biar orang tidak menyangka saya nulis begini pas hari valentine saja. Susah itu.