Tampilkan postingan dengan label Nikah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nikah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Oktober 2009

Dilema Poligami

Tadinya
Saya berhasrat untuk segera
Karna katanya
Itu sunnah rasul saya
Kebiasaan para sahabat dan pengikutnya


Tiba-tiba semua asa hilang entah kemana
Tanpa dinyana
Baiklah, saya batalkan saja itu rencana
Tapi tak apa
Sungguh tidak apa-apa


Toh, sebenarnya saya sudah menjalankannya
meskipun bukan dengan manusia
Belum dengan makhluknya yang paling sempurna
Sudah ada tiga yang meminang saya
Yang pertama bernama agama
Yang kedua biasa dipanggil negara
Dan ketiga adalah buku-buku saya
Kalaupun ada dia
Dia hanya bakal jadi nomor empat kedudukannya
"Jadi sepertinya tidak perlu segera," pikir saya


Dengan pasangan yang berjumlah tiga saja
Saya belum bisa adil, kata mereka
Padahal hampir tiap hari saya layani ketiganya
Sesering mungkin kami bersenggama
Saya puas, lemas, tapi tidak dengan mereka
"Sujudmu terlalu prematur!" kata Agama
"Gerakanmu minimal, kurang liar!" ujar Negara
"Stamina matamu payah, terlalu cepat lelah!" Buku-buku turut bersuara
"Jangan dulu coba-coba cari si nomor empat!" ketiganya kompak bersabda


Yasudah, saya menurut saja
Saya tidak akan mencari, tapi jangan salahkan si nomor empat kalau dia mencari saya
Sementara, cukuplah cinta saya dibagi tiga


Lalu, sayup-sayup saya mendengar suara
"Kalau si nomor empat bisa membuat cintanya jadi berlipat, sehingga bisa dibagi rata berempat, baru kita ijinkan dia"
Ternyata itu suara mereka bertiga
Sedang menyidangkan perkara suaminya


Agustus'09
Mengenang Alm.WS.Rendra

Rabu, 14 Mei 2008

Persiapan Finansial pra-nikah untuk KoAs

Jumat kemarin rohis angkatan saya ngadain gathering +sharing soal nikah pas kuliah. Menampilkan dua oknum angkatan 2003 yang udah duluan nikah, buat saya pribadi acara itu cukup bermanfaat. Tapi, sharing pribadi sama si oknum (yang ikhwan) selesai acara lebih memberikan saya pencerahan.

Ma’isyah, duit, atau penghasilan, seringkali jadi barrier terakhir buat yang kepingin menyegerakan menikah, terutama waktu masih kuliah. Nggak terkecuali saya. Yah, di luar kesiapan lain, mulai dari ilmu, mental, sehat, de el el, masalah duit memang jadi penghalang yang punya kontribusi paling besar. Tapi, bukan berarti kalo kondisinya sekarang saya punya duit yang cukup, itu berarti saya siap. Bukan.

Saya cuma pengen berbagi apa yang saya pikirkan setelah ngobrol sama si ikhwan kemarin. Setelah mencerna omongan2 si ikhwan dan coba berpikir lebih jernih di kosan, I notice that money is not a big deal at all. Apalagi buat yang udah klinik.

Oke, itung2an kasarnya begini.
Sebelum nikah, persiapan finansial yang kita butuhkan adalah untuk walimah, mahar, dan biaya hidup pasca nikah. Untuk walimah, sebenarnya kita nggak usah terlalu musingin, karna setau saya itu kewajiban orang tua. Sebatas yang saya baca, kewajiban orang tua ke anaknya adalah sampai menikahkan. Wajar kok, nggak usah gengsi kalo biaya nikahnya pake duit ortu. Toh, pas walimah, tamu yang datang pasti lebih banyak kolega orang tua kita dibanding temen2 kita, ya kan? Tapi bukan berarti kalo kitanya pengen naikin harga diri trus ngebiayain walimah sendiri jadi ga boleh. Secara orang tua saya dua2nya nikah 100% pake duit sendiri. Maklum, sibuk mengejar karir, baru nikah umur 29 euy.

Kalo begitu, berarti tanggungan kita sekarang kan tinggal mahar sama biaya hidup. Untuk mahar, menurut saya ini jelas harus ditanggung duit pribadi. Jelas bakal jatuh harga diri kalo mahar juga dapet dari sponsor. Meskipun bisa dikompromikan dan ada hadits yang bilang sebaik2 wanita adalah yang maharnya paling murah, tapi Rasul dan sahabat mencontohkan bahwa mereka berusaha ngasi mahar sebernilai mungkin. Jadi, usahakan sebisa mungkin standar minimal kesiapan finansial pra nikah kita adalah bisa beli mahar.

Terakhir, masalah biaya hidup. Secara sepintas masalah ini mungkin keliatan berat banget, secara kita memang belum berpenghasilan tetap. Tapi, setelah saya pikir2, fortunately kita adalah dokter. InsyaAllah setelah lulus dokter, pasti kita bakal lebih gampang untuk punya penghasilan yang cukup. Nah, berarti yang harus dipikirin sebenarnya adalah periode waktu kita masih kuliah. Mau dapet pemasukan darimana? Masih disuplay yayasan ayah bunda? Malu laah!

Secara sederhana, kalo kita sekarang udah klinik, otomatis periode bokek kita adalah cuma sekitar 1,5 tahunan. Setelah itu insyaAllah kita akan punya penghasilan untuk ngebiayain hidup keluarga kita. Nah, untuk hidup 1,5 tahun itu gampang, akhi! Kalo kata Aidil Akbar yang biasa nongol di Perfect Numbersnya O-channel, kebutuhan biaya hidup yang sebenarnya di Jakarta itu cuma sekitar 1,5jutaan per bulan untuk satu orang. Kalo berdua, bukan jadi 3 juta, tapi bisa lebih kecil lagi, mungkin sekitar 2-2,5jutaan. Artinya, paling banyak kita cuma butuh 40 jutaan. Nah, untuk dapet duit segini sebenernya kita tinggal nabung aja. Nggak harus punya 40juta di awal nikah, karena berapapun tabungan yang kita punya, nanti bisa diputer lagi buat biaya hidup setahun.

Yang sering kali terlupa, adalah bahwa waktu walimah biasanya kita dapet angpau! Hehe.. Tadinya saya pikir nggak signifikan, cuma buat nutup biaya walimah aja. Tapi, setelah tanya si ikhwan, dia yang nikahnya di Madiun aja, nominal angpaunya nyaris 9 digit! Apalagi Jakarta. Saya jadi kepikiran buat nyari dana kegiatan lewat nikah, hehe..
Yah, meskipun bisa dapet banyak untuk modal, jumlah angpau itu deviasinya emang lebar banget. Nggak semua pernikahan menghasilkan keuntungan. Ada juga yang angpaunya kecil, biasanya tergantung dari network orang tua.

Kesimpulannya, di sini saya coba melakukan analisis kuantitatif kebutuhan keuangan untuk benchmark kesiapan nikah. Katakanlah untuk mahar 5 juta, persiapan biaya hidup setahun 40 juta, jadi totalnya kita butuh 45 juta untuk nikah. Dapetnya darimana? Macem2, bisa nabung, bisa nyari duit, atau ekstrimnya nggak nyari duit sama sekali. Tinggal cari utangan 5 juta buat beli mahar, berdoa angpaunya dapet banyak, trus tinggal bayar utang yang 5 juta tadi, hehe.. Gampang ya? Sisanya buat modal hidup setahun deh. Tapi, settingan yang kayak gini memang cuma berlaku kalo kondisi finansial ortu juga mendukung sih. Kalo anaknya 15 dan masi kecil2 semua ya emang jadi agak kompleks itung2annya.

Gitu deh. Yang perlu diingat, banyak persiapan lain di luar finansial yang sebenernya justru lebih penting, dan jelas ga boleh dilupain. Kalo akhwat, kata si oknum (akhwat) lebih ke kesiapan mental sama penyesuaian kepribadian ajah (asli deh, si akhwat ini jadi matur sekali. Kayaknya akhwat lain di angkatan saya nggak ada yang se-wise itu, hehe).

Akhir kata, menurut si ikhwan yang udah ngejalanin 5 bulan, nikah pas kuliah kuliah itu banyak plusnya, dan nggak ada minusnya sama sekali. Monggo dicoba..
Semoga bermanfaat.