Tampilkan postingan dengan label Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wanita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Desember 2009

Salahnya Ibu


Saya punya perbekalan alasan yang lebih dari cukup untuk akhirnya memutuskan menulis menjelang hari Ibu. Tidak ada niatan saya untuk latah, atau mengekor jutaan penulis lain yang pasti tidak ingin melewatkan momen ini begitu saja. Biasanya, mendekati hari Ibu seperti sekarang ini, hari-hari kita akan dipadati blog2 puitis dan kolom2 melankolis yang akan mengajak kita berkontemplasi betapa kita tak akan mampu membalas lunas cinta seorang ibu. Bahkan sebelum kita berhasil menamatkan satu tulisan saja, tanpa sadar air mata kita telah berhamburan, berebutan untuk keluar melalui sudut2 yang ada. Mata kita mendanau, sebuah telaga kecil telah tercipta dengan sempurna diantara kelopaknya. Air mata itu seperti mengiyakan pepatah bahwa kasih seorang Ibu memang akan sepanjang masa. Dia (air mata itu) seakan hadir untuk menyempurnakan ucapan terimakasih kita untuk Ibu kita, karena diksi seringkali gagal mewakili suara hati secara presisi.

Bukan keahlian saya untuk memerah air mata manusia. Suatu kali pernah saya coba paksakan, tapi akibatnya justru serupa dengan usaha bunuh diri. Belum sempat saya tuntaskan itu tulisan, eh, air mata saya sudah berloncatan tidak karuan. Gagal total.

Beberapa hari lalu saya terpaksa membaca ulang Bumi Manusianya Pramoedya, dan Para Priyayinya Umar Kayam. Terpaksa memang, karena tidak direncanakan. Kebetulan ada seorang teman yang baru saja membaca, dan langsung jatuh cinta –katanya-. Saya punya ingatan yang telanjang bahwa buku2 Pram (dan Umar Kayam) memang meninggalkan kesan yang mendalam ketika saya khatamkan dahulu. Tapi ingatan tentang bagian mananya yang impresif, itu yang dibawa kabur oleh waktu, dicurinya dari gudang memori saya. Mungkin saat itu saya sedang tidak ada di rumah.hehe.Yah, terpaksa harus saya rebut kembali. Saya baca ulang.

Saya tidak ingin membahas tentang betapa perlawanan terhadap feodalisme dibahas dengan brilian di kedua buku itu. Concern saya saat ini, justru tentang para wanita di buku-buku itu, para Ibu yang berhasil lulus casting ala Pram dan Umar Kayam, sehingga ikut diabadikan dalam buku2 mereka.

Keprihatinan saya yang paling dalam seketika muncul ketika mengetahui bahwa ada orang yang mencuri –maaf- celana dalam wanita, divonis harus mendekam di penjara selama 5 tahun. Ada pula buruh yang mencuri 2 kilogram kapas senilai 4 ribu rupiah, mesti dikurung sembari menunggu putusan sidang. Mengapa mereka dihukum? Karena mereka mengaku, pikir saya. Sementara itu, ada orang lain, yang bukan buruh, bukan fakir, bukan miskin, dan tidak sedang kelaparan, mencuri uang milik rakyat bernilai trilyunan. Mungkin kalau uang itu kalau dibelikan kapas bisa dapat berton-ton, atau bisa juga untuk membeli celana dalam yang bisa dipakai oleh seluruh rakyat Indonesia. Dipenjarakah mereka? Boro2. Bisa jadi saat ini mereka sedang dugem atau main golf menghabiskan uang haram itu. Ironisnya, mereka tidak mengaku. Mereka lebih suka berlakon ala bajaj, ngeles, dan menyumpal palu para penegak hukum dan menjejali dompet mereka dengan uang hasil curian juga. Dugaan terbaik saya, minimal ada dua hal yang berperan dalam mencetak mental busuk para pejabat kita. Satu, masalah keberkahan. Kedua, perkara peran keibuan.

Mungkin setengah berbau kebatinan, tapi saya sangat percaya dengan yang namanya berkah. Uang yang tidak halal, berapapun jumlahnya tidak akan cukup untuk membeli keberkahan Allah. Makanan yang tidak baik, didapatkan dari cara yang menjurus haram, sesedikit apapun, bisa mencerabut keberkahan Allah dari konsumennya. Orang yang hidupnya kehilangan keberkahan, jalan hidupnya akan sulit langgeng, dan bisa2 gagal mewujudkan misi untuk menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain.
Para oknum pejabat, orang-orang kaya, para Jendral, dan para pembesar lainnya yang sekarang sedang menjadi tirani di negeri ini –prediksi saya- mayoritas adalah anak para priyayi jaman kolonial. Mereka adalah keturunan yang lahir dari kaum yang mengais rejeki dari menggerogoti belulang bangsa sendiri demi kemuliaan diri dan keluarga. Mereka menciumi sandal para kompeni demi mendapatkan jabatan tinggi. Yah, meskipun ada pula golongan priyayi yang memang mulia, yang memahami bahwa meningkatnya kedudukan beriringan dengan meningkatnya tanggungjawab untuk membangkitkan bangsa. Wallahua’lam, na’udzubillahi min dzalik, mungkin dari sinilah keberkahan anak keturunan mereka mulai terkikis.

Nah, yang kedua, masalah peran keibuan. Jika kita membaca sejarah, atau membaca novel sejarah semacam Bumi Manusia dan Para Priyayi, kita akan mudah untuk menyimpulkan bahwa peran perempuan dalam masyarakat Indonesia dahulu sangat terkerdilkan. Bahkan pada kaum priyayi sekalipun. Perempuan telah didesain memiliki hak yang kelewat terbatas, lalu mereka terpaksa mempercayainya, dan kepercayaan itu diwariskan pada anak perempuan dalam keluarga.
Pada masa itu -menurut saya- perempuan hanya diplot sebagai istri, bukan dipersiapkan untuk menjadi Ibu. Jobdesc perempuan disimplifikasi, dan ranah aktivitasnya dikerangkeng sebatas dapur, sumur, dan kasur. Yang paling gawat, potensi utama seorang Ibu sebagai pendidik digunduli dan dipangkas habis. Perempuan jaman itu tidak terdidik, dan tidak disiapkan untuk jadi pendidik. Wajar jika anak-anaknya kemudian seperti tidak pernah mendapatkan sentuhan didikan ala seorang Ibu, yang lebih banyak ke perkara softskills. Produk generasi itu memiliki kualitas budi pekerti yang minimal, mental yang melempem, dosis kejujuran yang kelewat sedikit, keberanian yang tipis, pemahaman agama yang dangkal, dan seterusnya. Sekolah formal bisa jadi akan kesulitan mengajarkan penatalaksanaan semua masalah tadi, tapi sekolah ala Bunda di rumah saya yakin pasti bisa.

Perempuan itu kadang serupa dengan pers. Dahulu dikekang, sekarang bebas. Mungkin memang terinspirasi dari pers, ada juga perempuan yang oportunis dan bertingkah kelewat batas. Macam infotainment, semua perkara di muka bumi dianggap jadi hak mereka untuk disiarkan, ditonton dan didengar seluruh pasang mata-telinga manusia. Pokoknya bebas. Ironisnya, mereka yang mempertuhankan kebebasan itu, walaupun di satu sisi sukses merebut kembali hak-hak perempuan yang sempat tercerabut, di sisi lain kewajiban utamanya justru terbengkalai. Sunnahnya jalan, fardhunya kedodoran.

Perempuan itu, sebelum menjadi apapun profesinya, sejatinya ia adalah calon Ibu. Maka ia harus belajar dan dikondisikan untuk mendapatkan kurikulum pendidikan keibuan. Dari kecil, kebanyakan orang tua kita lebih banyak menanyakan tentang cita2, profesi, mau jadi apa kelak ketika besar, dan mengecek setiap hal yang berkaitan dengan cita2 tadi secara berkala. Sudah mengerjakan PR atau belum, sudah belajar atau belum, dan seterusnya. Tapi perkara lain yang lebih pasti, bahwa si gadis ini akan menjadi Ibu, jarang sekali dikonfirmasi kemajuannya. Apakah si anak ini sudah cukup memahami agama, menguasai ketrampilan manajemen keuangan rumah tangga, memasak berbagai makanan yang memenuhi kebutuhan gizi keluarga, hingga kemampuan mendidik anak. Sayang sekali.

Yasudahlah, itu masa yang sudah lewat. Durhaka rasanya kalo kita menyalahkan orang2 tua kita atas apa yang terjadi pada diri kita sekarang. Urusan kita adalah masa depan, bukan masa lalu. Dalam konteks peningkatan peran keibuan, yang bisa kita perbuat kini adalah hendaknya masing2 perempuan mempersiapkan diri untuk menguasai seluruh kompetensi wajib seorang Ibu. Para lelaki pun tidak bisa tak acuh, berpikir bahwa ini bukan porsinya. Karena bisa jadi anak kita nanti adalah perempuan, yang juga akan menjadi calon Ibu, yang otomatis harus terpapar dengan kurikulum pendidikan calon Ibu. Karena itu, pastikan calon anak kita nanti akan mendapat didikan yang baik, dari seorang Ibu terpilih, yang juga baik.
Jangan lagi mereproduksi generasi bermental tempe, yang bahkan untuk bertobat dan mengakui kesalahan diri sendiripun malu.
Selamat hari Ibu.
Selamat menjadi Ibu dan calon Ibu.
Doa saya untuk seluruh Ibu di seluruh dunia.

Selasa, 13 Mei 2008

Wawancara dengan Kartinah


Suatu saat saya berkunjung ke kediaman ki Joko Jodo. “Ki, saya mau minta tolong nelpon ke dunia roh, boleh?”
“Ada perlu apa?”
“Mau interview ki, penting.”
“Weladalah, gaya banget kamu le. Kamu mau wawancara siapa? Saya belum ngisi pulsa, jadi gak bisa lama-lama. Saya mau ganti provider, maklum lagi pada perang tarif. Jadi yang ini ndak saya isi lagi, Mau ganti yang lebih ngirit.”
“ Mau ngomong sama bunda kartinah ki. Bentar lagi kan mau bulan april, bulannya wanita, bulannya kartinah. Saya disuruh bos buat bikin tulisan pas hari kartinah, kepepet deadline ki.”
“O yaudah, ojo suwe-suwe lho yo. Hitungannya interlokal soalnya.” Tak lama kemudian tedengar ring back tone reff lagu ibu kita kartinah “waaahai ibu kita kartinah putri yang mulia, suuuungguh besar cita-citanya....”
” Halo?”
“Assalamualaikum, dengan raden ajeng kartinah?”
“Waalaikumsalam. Iya, ini saya sendiri, siapa ya?”
“Hilmi den ajeng. Wartawan magang dari batavia. Den ajeng ada waktu barang 10 menit? Saya kepingin wawancara sebentar.”
“Oh, wawancara ya? Dipoto ndak ya? Saya dandan sebentar ya..?”
“Lho, kan wawancaranya pake telpon den. Gimana cara motonya?”
“Oiya, lupa, hehe.. Maklum, yang saya baca di majalah2 jaman sekarang kalo wawancara selalu ada fotonya. Lagi gaya gitu, atau kalo nggak lagi di perpustakaan yang banyak bukunya”
“Ooo den ajeng mau ada fotonya. Kalo gitu nanti dikirim pake email aja den. Kan bisa di attach.” “Walah, diapakno iku. Saya ndak ngerti caranya. Nanti saya kirim pake wesel ajalah ya”
“Hah, bisa to den? Yowis, terserah aja.”
“Trus kamu mau tanya apa?”
“Saya mau tanya dikit den, soal emansipasi wanita. Sebenernya yang den ajeng mau itu kayak gimana ya? Soalnya sekarang perempuan-perempuan ngotot rebutan minta jatah kerjaan laki2. Emansipasi katanya. Bilangnya sih buat meneruskan perjuangan den ajeng.”
“Hmm..” diam beberapa saat.
“Halo? Den ajeng? Masih di situ?”
“Oiya, sori2, lama ya? Saya tadi mikir dulu. Ini agak berat soalnya kalo saya sampe salah ngomong.”
“Oiya den, ndak papa. Sayanya sih ndak masalah nunggu. Yang udah mencak2 dari tadi yang punya telpon, ki joko jodo. Pulsanya keburu habis banyak.”
“O,gitu ya. Yaudah, jadi singkatnya gini. Memang, yang dulu saya perjuangkan itu emansipasi, atau bahasa sekarangnya isu gender. Kalo ndak salah ada juga di Millenium development Goalnya PBB ya? Tujuan nomer 2 atau 3. Tapi, sayangnya banyak cucu-cucu saya di Indonesia yang kebablasan. Salah nangkep apa yang saya maksud, atau mungkin mereka memang sengaja mbajak nama saya buat pembenaran pemikiran mereka sendiri. Asli dik Hilmi, suer, saya ndak pernah ngajarin wanita buat jadi anggota DPR, apalagi sampe 30%. Saya ndak pernah nyuruh2 wanita jadi sopir, jadi orang kantoran, atau banyakan di luar rumah dari pada di dapur. Apa yang sekarang diomongin sampe berbusa2 sama si Ratna, Ayu, sama temen2nya itu beda sama yang saya pikir waktu itu.” Hening sejenak, lalu terdengar suara isak tangis di ujung telepon.
“Ada masalah den ajeng”
“Oh, maap. Saya jadi ndak bisa nahan nangis. Saya sedih banget liat cucu-cucu saya sekarang. Yang nangkep apa yang saya ajarkan bukannya perempuan Indonesia, tapi justru orang PBB, orang bule. Mungkin karna mereka lebih pinter, sedangkan orang Indonesia keminter. Hhh....jadi, emansipasi yang saya perjuangkan dulu itu sebenarnya justru mirip yang ada di millennium goal itu. Penyetaraan akses ke pendidikan. Titik. Itu saja. Saya kepingin perempuan2 indonesia itu cerdas, pintar, sekolahnya tinggi, punya banyak ilmu. Tapi bukan untuk menyaingi dan berdebat dengan laki-laki. Bukan untuk mengurus urusan laki-laki, kerjaan laki-laki. Dik hilmi, yang namanya perempuan itu adalah guru pertama buat anak-anaknya, sekolah pertama buat generasi muda. Kalo gurunya bodo, culun, katrok dan ndeso, gimana anak-anaknya mau bagus? Makannya, saya ngotot memperjuangkan akses pendidikan sampe tingkat yang paling tinggi buat perempuan. Perempuan harus pintar, biar bisa mendidik anak-anaknya. Perempuan harus pintar, biar bisa menjaga harta suaminya. Perempuan harus pintar, karna perempuan adalah tiang negara. Pemikiran ini saya sarikan dari sabda kanjeng nabi, barang siapa menginginkan dunia dan akhirat maka hendaklah dengan ilmu.” Suara mengehela napas..
“Sekarang saya tanya, kamu mau istrimu bodo?”
“Ya tentu ndak mau den.”
“Kamu mau hartamu habis gara2 istrimu ndak ngerti matematika”
“Naudzubillah den ajeng, amit2”
“Nah, itu makanya perempuan harus pinter.”
“Soal anggota DPR 30% gimana den?”
“Ah itu lagi. Saya kan udah bilang tadi. Jobdesc perempuan itu dari sananya udah beda sama laki. Tugas luar rumahan itu aslinya banyakan bagiannya laki-laki! Coba kamu bayangin, gimana orang jamanmu sekarang bisa doyan selingkuh? Karna ketemu perempuan, to! Ketemunya dimana? Ya di tempat kerja itu, di gedung DPR, di kantor, macem2lah. Makanya itu, kanjeng nabi dari dulu juga wis ngingetno kalo kita mesti jauh2 dari ikhtilat. Caranya? Ya masing2 melakukan jobdescnya. Nah, perkecualian buat hal ini adalah kerjaan2 luar yang justru memang butuh perempuan. Dokter misalnya. Itu justru wajib. Kalo nggak ada dokter perempuan, justru makin banyak peluang ikhtilatnya, karna pasien banyak yang perempuan. Makanya, dik hilmi, kalo nanti kamu dapet istri dokter, didukung karirnya! Tapi mesti diingatkan soal tugas utamanya buat menjaga keluargamu.”
“Iya den ajeng.”
“Kemarin saya di sini nonton TVRI. Saya nonton sambutannya Gede Prama waktu mbuka perayaan nyepi di Bali. Orang itu pemikirannya bagus deh. Waktu itu dia bilang, semua wanita hebat di dunia ini menaklukkan dunia justru dengan kelembutannya, dengan sifat-sifat khas wanitanya. Mulai dari Mother Theresa, siti Aisyah, ibu kartini, sampai lady Diana. Saya senyam-senyum waktu dia sebut nama saya dik. Trus, dia bilang kalo wanita ngambil kerjaan laki-laki, wanita akan jadi pohon cemara di tepi pantai yang penuh sama pohon kelapa. Aneh to??”
“Hehe....bentar den ajeng, saya coba bayangin dulu ya”
“Ah, kamu iso wae. Gak usah dibayangno, mesti aneh sing koyo ngono iku”
“Iya deng, aneh”
“Nah, jadi gitu konsep emansipasiku. Kamu nangkep kan? Dari suaranya, kayaknya kamu itu pinter soalnya.”
“Waduh, den ajeng bisa saja bikin saya ge er. Iya den, saya sudah ngerti sekarang. Besok saya akan tulis, dan saya akan sebarkan ke seluruh Indonesia raya. Biar perempuan-perempuan itu ndak salah ngerti lagi.”
“Bagus2, jadi saya ndak merasa bersalah lagi nanti. Kan repot, mau bilang apa nanti saya kalo ditanya gusti Allah, kalo semua perempuan sableng yang kelewat batas itu mengkambinghitamkan saya. Oiya, satu lagi. Sebenarnya, kalo perempuan itu mau teladan, contohlah ibunda khodijah, atau siti aisyah. Kualitas mereka jelas lebih bagus dari saya. Tapi perempuan Indonesia sekarang memang lebih kenal saya sih. Padahal, jaman saya dulu, semua kenal siapa itu siti khodijah dan aisyah. Kami berlomba untuk meneladani mereka. Mungkin karna sekarang dunia sudah dipisah2 jadi banyak negara, orang jadi cenderung nyari idola lokal, yang lebih pas buat settingannya sendiri. Tapi ndak papa, mungkin seharusnya memang bertahap. Pertama teladani saya dulu, kalo udah bisa baru teladani mereka berdua, hehe..”
“Wah,, den ajeng narsis juga ya?”
“Lhah, saya kan niru2 kamu”
“Hah, den ajeng kok tau saya narsis?? Dapet gosip darimana?”
“Dari baumu itu, kecium sampe di sini!” Tut..tut..tut
“Halo? Halo? Den ajeng kartinah?? Ki joko jodo, kok tau2 telponnya mati?”
“Walah.. semprul kamu le. Pulsanya berarti habis! Kamu sing ngentekno!”
“Waduh, sori ki. Keasyikan ngobrol”
“Yauwes, ndak apa-apa. Asal diganti wae.”
“Waduh ki, saya ndak bawa cash. Pake kartu kredit aja bisa?”
“Bisa kok, mana kartumu?”
“Ini ki”
“Ini kan KTP!”
“Ya itu ki, saya kalo mau kredit barang ninggalin KTP buat jaminan”
“Ooo.....dasar kowe! Wis, minggat sana! Sekali ini gratis. Tapi jangan sekali-kali kesini lagi kalo ndak bawa duit!”
“Oke ki. Tengkyu ya! See you!”
Saya pun pergi dari kediaman ki Joko Jodo.

Pondok Kahfi, April 2008